Di Tengah Canggihnya Zaman, “Qiyam” PAC IPNU IPPNU Bungah Gresik Bentengi Generasi Z dengan Akhlak

Redaksi NUGres Redaksi NUGres
Program "Qiyam" PAC IPNU IPPNU Bungah Gresik menjadi bentengi bagi generasi remaja Akhlak dan ketulusan. Foto: Barok/NUGres

BUNGAH | NUGres – Di era ketika segalanya dapat dicari melalui layar handphone, ketika ilmu terasa begitu mudah dijangkau hanya dengan sentuhan jari, malam Rabu Kliwon itu justru menghadirkan sebuah pelajaran yang jauh lebih dalam: bahwa ada hal-hal berharga dalam hidup yang tidak pernah bisa diajarkan oleh teknologi yaitu adab, ketulusan, dan kedekatan hati kepada Allah SWT.

Bertempat di Musala Al Hidayah Yayasan Pendidikan Islam Nusantara Mojopurowetan Bungah Gresik, PAC IPNU IPPNU Bungah Masa Khidmat 2026–2028 kembali menggelar rutinan QIYAM (Pembacaan Surah Al-Waqiah dan Mahallul Qiyam) pada Rabu Kliwon, 13 Mei 2026 M bertepatan dengan 25 Dzulqa’dah 1447 H. Kegiatan yang dimulai sejak pukul 19.00 WIB ba’da Isya’ itu berlangsung penuh khusyuk, hangat, dan sarat makna.

Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala SMA Nusantara Bungah Ah. Bagus Dzikrul Haqqi, S.Hum., Isnaini Falihah Afriliyah Ali Hasby, S.Sos. selaku Penanggungjawab PK IPNU IPPNU SMA Nusantara Bungah, Farihatun Qulbi, S.Kom., selaku Pembina PK IPNU IPPNU SMA Nusantara Bungah, bapak ibu guru SMA Nusantara Bungah

Jug hadir Ketua PAC IPNU dan IPPNU Bungah, Fadllu Ainul Izzi dan Dhayfina Choirun Nisa’, jajaran pengurus PAC IPNU IPPNU Bungah, Ketua PK IPNU dan IPPNU SMA Nusantara Bungah Muhammad Wildanul Fatih Alimulhaq dan Amelia Sahla Aurelia, jajaran pengurus PK, siswa siswi SMA Nusantara Bungah, serta rekan-rekanita PK dan PR IPNU IPPNU se-Kecamatan Bungah.

Sebagai tuan rumah, PK IPNU IPPNU SMA Nusantara Bungah menghadirkan suasana yang sederhana namun penuh kehangatan ukhuwah. Kegiatan diawali dengan pra acara pembacaan sholawat bersama yang dipimpin oleh Rekan Muhammad Ulul Albab. Suara sholawat yang menggema perlahan mengubah suasana malam menjadi begitu syahdu, menghadirkan rasa damai yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Kemudian pembacaan Surah Al-Waqiah oleh rekanita Maghfirotin Ni’matuz Zahroh dan Zaidah Tsalsa Adinda Nuha, membuat suasana semakin menyentuh hati. Setiap ayat yang dilantunkan terasa seperti pengingat bahwa manusia sering kali terlalu sibuk mengejar dunia, hingga lupa menenangkan hatinya sendiri.

Malam itu, Al-Waqiah tidak sekadar dibaca sebagai rutinitas, melainkan menjadi doa bersama agar Allah SWT memberikan keberkahan hidup, kemudahan rezeki, ketenangan jiwa, serta kekuatan iman di tengah zaman yang semakin melelahkan.

Suasana semakin haru ketika Mahallul Qiyam dipimpin oleh rekan Ahmad Nur Muhammad Ali Habsy dan Muhammad Diffa’ul Haq Arifin. Seluruh jamaah berdiri bersama melantunkan sholawat dengan penuh penghayatan. Tidak sedikit mata yang mulai berkaca-kaca, larut dalam rasa cinta dan rindu kepada Rasulullah SAW dengan harapan akan syafaat beliau kelak.

Acara kemudian dilanjutkan dengan opening ceremony yang dipandu oleh rekanita Amanda Putri Faradisa dan Rekanita Dewi Salzabil Agustina. Pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Rekanita Auliya Shyafira Alfa Rizqi semakin menambah kekhidmatan malam tersebut. Lagu Indonesia Raya, Mars Syubbanul Wathon, dan Mars IPNU IPPNU yang dipandu oleh dirijen Rekanita Jihan Nanda Safira menggema penuh semangat, menandakan bahwa pelajar NU tidak hanya tumbuh dalam intelektual, tetapi juga dalam spiritual dan akhlak.

Dalam sambutannya, Kepala SMA Nusantara Bungah Ah. Bagus Dzikrul Haqqi, S.Hum. menyampaikan rasa bangga terhadap semangat kader IPNU IPPNU yang terus menjaga tradisi keislaman dan semangat berproses.

“Kami akan terus mendukung kegiatan positif seperti ini. Semoga rekan-rekanita menjadi generasi penerus Nahdlatul Ulama yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki akhlak dan semangat perjuangan,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua PK IPNU SMA Nusantara Bungah rekan Muhammad Wildanul Fatih Alimulhaq menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kehadiran seluruh tamu undangan serta dukungan bapak ibu guru yang terus membersamai perjuangan para kader.

Ketua PAC IPPNU Bungah, rekanita Dhayfina Choirun Nisa’ rasa terima kasih kepada PK IPNU IPPNU SMA Nusantara Bungah yang telah menjamu dan menyambut hangat seluruh rekan-rekanita IPNU IPPNU se-Kecamatan Bungah. Ia menyampaikan bahwa kegiatan QIYAM bukan hanya menjadi sarana meningkatkan ketakwaan dan nilai ibadah semata, tetapi juga menjadi wadah untuk mempererat tali silaturrahmi dan ukhuwah antar kader dari berbagai PK/PR IPNU IPPNU se Kecamatan Bungah. Menurut beliau, melalui majelis dzikir dan sholawat seperti inilah rasa persaudaraan, kebersamaan, dan semangat berproses bersama dapat terus tumbuh dan terjaga.

Selain itu, disampaikannya agenda besar PAC IPNU IPPNU Bungah yang akan datang, yakni pelaksanaan MAKESTA Raya yang dipelopori oleh tiga ranting. Rekanita Dhayfina mengajak seluruh rekan dan rekanita yang belum berkesempatan mengikuti jenjang kaderisasi pertama agar dapat turut hadir dan ikut berproses dalam kegiatan tersebut. Beliau berharap MAKESTA Raya nantinya mampu menjadi ruang pembelajaran, penguatan ideologi, serta awal lahirnya kader-kader pelajar Nahdlatul Ulama yang aktif, berakhlak, dan istiqomah dalam perjuangan organisasi.

Puncak acara penuh makna malam itu hadir diperteguh dengan mauidhah hasanah yang disampaikan oleh Ustadz Sukma Wiguna, S.Pd.I. Dengan suara teduh dan penuh ketulusan, ia menyampaikan pesan yang membuat seluruh jamaah terdiam dan merenung.

“Sekarang mencari ilmu sangat mudah. Di rumah saja, lewat internet dan handphone, orang sudah bisa mendapatkan ilmu. Tetapi ada satu hal yang tidak bisa diajarkan oleh internet, yaitu adab dan akhlak. Itu hanya bisa dipelajari dengan duduk bersama guru, kiai, dan orang-orang saleh,” paparnya.

Kalimat sederhana itu seakan menampar hati banyak orang di tengah zaman yang serba instan. Bahwa kecanggihan teknologi boleh berkembang, tetapi manusia tetap membutuhkan tuntunan adab agar ilmu tidak kehilangan arah.

Ustadz Sukma juga berpesan agar membaca Surah Al-Waqiah tidak hanya dilakukan saat rutinan, tetapi dijadikan amalan harian agar hidup dipenuhi keberkahan dan hati tetap dekat kepada Allah SWT.

Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh beliau. Dalam heningnya malam, tangan-tangan terangkat penuh harapan. Ada yang berdoa untuk orang tua, pendidikan, masa depan, kesehatan, hingga meminta kekuatan agar tetap istiqomah di tengah beratnya kehidupan.

Acara diakhiri dengan makan bersama dan sesi foto penuh kehangatan. Tawa sederhana malam itu terasa begitu berarti, karena lahir dari hati-hati yang dipersatukan oleh dzikir, sholawat, perjuangan, dan cinta kepada Allah SWT serta Rasulullah SAW.

QIYAM malam itu akhirnya bukan sekadar kegiatan rutin organisasi. Ia menjadi pengingat bahwa di tengah dunia yang semakin canggih, manusia tetap membutuhkan tempat untuk menenangkan hati, memperbaiki akhlak, dan kembali mengingat siapa dirinya di hadapan Allah SWT.

Penulis: Ahmad Mubarok
Editor: Chidir Amirullah

Leave a comment