Kisah Misbar dan Musim Penghujan

oleh -66 Dilihat
Ilustrasi hiburan rakyat berjuluk Misbar "Gerimis-bubar" menjadi even yang dinanti warga tempo dulu. Gerimis pada even ini, menandakan pagelarannya berada di musim penghujan. Foto : Istimewa/NUGres

GRESIK | NUGres – Kalau musim hujan begini, ternyata ada yang selalu terkenang-kenang. Khususnya kalangan muda yang pernah merasakan masa tumbuh di sekitar tahun 1980-an akhir hingga awal tahun 1990-an.

“Musim hujan begini, dulu senang kalau ada Misbar. Nontonnya rame-rame bareng teman sekampung,” tutur Ali (47), warga Dusun Petisari, Desa Babaksari Kecamatan Dukun, Gresik, ketika cangkruk bareng penulis, Selasa (25/10/2022) sore.

Gelaran Misbar biasanya berlangsung pada malam hari dan dipusatkan di titik keramaian seperti di Alun-alun atau Pasar. Di Dukun, dahulu ketika ada Misbar kata Ali, para kaum muda di wilayah itu rame-rame naik sepeda angin menuju lokasi Misbar.

Baca juga : Pegon dan Siasat Kiai Jawa

“Misbar itu kalau sekarang itu ya seperti Bioskop lah, tapi Misbar itu istilah dari kependekan ‘Gerismis-Bubar‘. Kesamaan dengan bioskop layarnya sama lebar. Sedang bedanya Misbar digelar di tanah lapang dan gratis,” lanjut Ali, sesekali mengepulkan asap dari kretek dari yang dihisapnya.

Simak Juga:  Fatayat NU Gresik Gerakkan Kemandirian Ekonomi Melalui Koperasi

Karena minimnya hiburan kala itu, jadinya Misbar selalu dinantikan kehadirannya oleh anak-anak muda. Secara teknis, even ini akan berakhir yakni ketika gerimis datang maka penontonnya akan bubar.

Baca juga : Menyimak “Pesan” Kreatif Warga Mengare melalui Karnaval Desa

“Mungkin yang bikin syahdu ya itu, ada rasa ketar-ketir, harap-harap cemas pas asyik nonton, lalu hujan datang,” sambungnya, melempar senyum mengenang.

Hiburan Misbar yang pernah masyhur di zamannya ini praktis jadi magnet bagi kalangan muda. Mereka bahkan tidak peduli lagi pada jarak. Belasan kilometer naik sepeda pancal pun akan ditempuh.

“Kalau saya jaraknya dari rumah ke lokasi Misbar kurang lebih 1-2 kilometer, ada jalan tembusan. Saya pernah jalan kaki ke lokasi Misbar,” pungkasnya.

Simak Juga:  PC JQHNU Gresik 2022 - 2027 Dilantik, Pembina Harapkan Komitmen Pengurus Cetak Generasi Al Quran

Baca juga : Kirab Pusaka Waliyah Zaenab, Mengenal Tradisi Suroan Warga Desa Diponggo Pulau Bawean

Sebagai anak desa, Ali juga menganggap Misbar adalah ruang temu dengan teman-temanya baik dari kampung tetangga hingga teman sekelasnya di Madrasah. Ali juga tidak heran, kalau sekarang milenial nonton film yang biasa tayang di bioskop pun bisa diakses melalui aplikasin di gawainya. Jaman memang terus berubah.

Namun, bila tiba musim hujan, Ali memiliki arti tersendiri berkaitan dengan Misbar, anak-anak jaman dulu, dalam kenangannya. (Chidir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *