BUNGAH | NUGres – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Bungah menggelar agenda rutin Lailatul Ijtima’ di Masjid Agung Kiai Gede Bungah, Selasa 30 September 2025. Acara yang menjadi ajang silaturahim dan konsolidasi jamiyah ini diisi dengan tausiah keagamaan, laporan perkembangan organisasi, dan informasi terkini terkait layanan kesehatan.
Acara diawali dengan salat ghaib berjamaah, pembacaan istighasah dan tahlil. Menurut pantauan, sedikitnya 450 jamiyah hadir dari berbagai PRNU Se-Kecamatan Bungah hadir. Ketua Tanfidziyah PRNU, Ustadz Hamdi Ahmadi Muzhabi mengatakan bahwa pengurus NU di PRNU Bungah lebih dari 90 persen sudah lulus mengikuti PDPKNU dan cakupan wilayah dan organisasinya cukup banyak.
“Muslimat rantingnya hanya satu, tapi anak rantingnya 13. Lalu Muslimat, ada 4 (Bungah, Kaliwot, Karangpoh, Dukuh). Aktif semua. Lalu di kepengurusan, ada 4 Lembaga Banom, LDNU, LTN NU, Laziznu, dan RMI NU,” ungkapnya.
Setelah sambutan Ust. Hamdi, terdapat sesi penyerahan secara simbolis bantuan beasiswa kepada 3 perwakilan anak, dari total 70 anak yang mendapat bantuan beasiswa dari Laziznu PRNU Bungah. “Terima kasih atas kehadiran para bapak/ibu, mohon maaf jika ada yang kurang berkenan dari acara Lailatul Ijtima’ malam ini,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Tanfidziyah MWCNU Bungah, Romo K.H. Muhammad Alaudin, Lc., M.Si., dalam sambutannya mengumumkan hasil musyawarah jajaran Syuriyah MWCNU Bungah. Setelah proses musyawarah, Romo K.H. Ir. Muhammad Hamdan secara resmi diamanahkan sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Rais Syuriah MWCNU Bungah.
“Semoga dengan kepimpinan beliau, MWCNU Bungah tambah baik dan tambah maju. Allahumma Amin,” tutur Kiai Alaudin. Kiai Hamdan juga turut memimpin pembacaan doa dalam penutup acara.
Pemangku Pondok Pesantren Qomaruddin itu juga memaparkan perkembangan organisasi dan masifnya pengkaderan. Kiai Alaudin menambahkan bahwa pihaknya memberikan apresiasi tinggi kepada Ranting NU Bungah, di mana 90% pengurusnya merupakan kader PKP NU.
Pihaknya menambahkan bahwa, terkait pengkaderan, MWCNU Bungah terus menggenjot pelaksanaan Pelatihan Dasar Pengkaderan Nahdlatul Ulama (PD PKPNU). Kiai Alaudin mengumumkan bahwa PD PKPNU selanjutnya dijadwalkan pada 12-14 Desember.

Ia mencatat bahwa saat ini masih terdapat delapan Ranting yang ketua Tanfidziyah-nya belum memiliki sertifikat PD PKPNU. Delapan ranting tersebut adalah Pereng Kulon, Raci Wetan, Raci Delanyar, Melirang, Masangan, Sukowati, Pegundan, dan Watu Agung.
“Selama periode ini kita sudah meluluskan 259 kader dari tiga kali pelaksanaan PD PKPNU,” ungkap Kiai Alaudin. Ia menegaskan bahwa kader yang aktif memiliki dampak positif pada semangat Ranting.
Selain itu, MWCNU Bungah telah menindaklanjuti permintaan PBNU untuk membentuk kepengurusan Jam’iyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) tingkat MWC (Idarah Ghusniyyah), dengan menunjuk Gus Faruk dari Abar-abir sebagai Ketua..
Pada gilirannya, Direktur RSI Mabarrot MWCNU Bungah, Dr. Izuddin Sahbana, memaparkan laporan bulanan terkait Pelayanan RSI Mabarrot Bungah dan Tantangan BPJS. Secara umum, terjadi peningkatan kunjungan sebesar 14% dari tahun lalu, dan tingkat kepuasan masyarakat mencapai 4,9 (dari angka tertinggi 5).
RSI Mabarot kini melayani banyak poli spesialis baru, termasuk kandungan, anak, penyakit dalam, bedah umum, bedah tulang, saraf, konservasi gigi, dan yang terbaru adalah jantung—yang sudah melayani BPJS.
Namun, Dr. Izuddin menyampaikan tantangan besar berupa kebijakan BPJS Pusat yang membatasi pelayanan rawat inap di rumah sakit dan mengoptimalkan layanan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP). Kebijakan ini berdampak pada penurunan kunjungan rawat inap dan membebani efisiensi operasional rumah sakit.
Ia juga menyoroti tantangan ke depan, seperti pemenuhan Kamar Rawat Inap Standar dan menghadapi perubahan pola kelas rumah sakit di tahun 2026 yang berbasis kompetensi.
Ketua RMI MWCNU Bungah, K.H. Nailul Muna, Lc., M.Pd. dalam Mauidzah Hasanah-nya, menyampaikan bahwa Nahdlatul Ulama adalah wujud rahmat Allah yang didirikan dengan perjuangan para kiai. Ia menekankan pentingnya organisasi ini sebagai benteng akidah Asy’ariyah di dunia.
Kiai Nailul Muna menyerukan gerakan “Back to Turats” (kembali ke kitab-kitab klasik) sebagai upaya membentengi akidah masyarakat, khususnya di tengah tantangan urbanisasi dan masuknya pemikiran-pemikiran asing di Gresik.
“Di antara kegiatan Back to Turats ini nanti kita mengkaji, tadarusan Qanun Asasi,” jelasnya, merujuk pada kitab yang ditulis oleh Hadratus Syeikh K.H. Hasyim Asy’ari. Rencananya, kegiatan tadarusan Qanun Asasi akan dimulai saat peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tahun ini dan dilanjutkan sebagai rutinan bulanan.
Kiai Nailul Muna juga berharap agar program Back to Turats ini berkembang di Banom dan Lembaga NU, agar “Nurul Ilmi” (cahaya ilmu) dapat menyebar luas, menancapkan akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah An-Nahdliyyah hingga ke akar rumput.
Di akhir acara, Romo K.H. Moh. Chusnan Ali memberikan penjelasan singkat mengenai sejarah dan konsolidasi JATMAN, memastikan bahwa organisasi ini merupakan Banom yang secara resmi berafiliasi dengan NU.
Lailatul Ijtima’ ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Plt Rais Syuriyah, Romo K.H. Ir. Muhammad Hamdan, dan Romo K.H. Ahmad Hadziq (Pemangku Pondok Pesantren Al-Ishlah Bungah).
Penulis: Maghfur Munif
Editor: Chidir Amirullah

