Oleh: Muhammad Miftahuddin*
KOLOM KALEM | NUGres – Di tengah derasnya arus informasi hari ini—baik dari mimbar ke mimbar maupun dari layar ke layar—istilah barakah dan karamah menjadi kata yang sering diucapkan. Sayangnya, tidak semua orang sampai pada pemahaman yang utuh tentang apa sebenarnya makna barakah dan karamah itu sendiri. Padahal, tanpa pemahaman yang benar, istilah yang sakral bisa berubah menjadi sekadar slogan spiritual tanpa pijakan syariat dan realitas.
Pengalaman mengikuti Madrasah Kader Da’i Masjid ke-2 yang diselenggarakan oleh PD DMI Kabupaten Gresik pada 20–21 Desember 2025 menjadi titik refleksi penting bagi saya. Salah satu materi yang sangat membekas adalah penjelasan Agus H. M. Ata Syifa Nugraha., S.T, yang akrab disapa Gus Ata. Tulisan ini merupakan hasil interpretasi dan perenungan saya atas kerangka berpikir yang beliau sampaikan tentang bagaimana ilmu bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk membentuk cara kita memahami realitas secara utuh agar tidak terjebak pada kesimpulan yang keliru.
Ilmu itu disampaikan secara sistematis melalui sebuah tahapan yang indah dan mendalam, yaitu:
Ta’allama → Tafahhama → Tarbiyah → Tadribah → Istiqamah → Barakah → Karamah
Ta’allama: Belajar sebagai Titik Awal
Segala sesuatu selalu dimulai dari ta’allama—belajar. Di tahap ini, seseorang mulai mengisi dirinya dengan ilmu: ikut kajian, membaca kitab, menghadiri pelatihan, atau sekarang lebih sering—menonton konten dakwah di media sosial. Ini adalah fase mengenal dan mengumpulkan informasi.
Namun, penting disadari bahwa ta’allama masih sebatas menerima, belum sampai mengubah cara berpikir atau bersikap. Seperti seseorang yang belajar tentang shalat: ia hafal rukun, tahu syarat sah, dan lancar bacaannya. Tapi kalau ilmunya berhenti di situ, shalatnya bisa tetap terasa biasa saja, belum tentu berdampak pada akhlak dan keseharian.
Contoh yang sangat dekat dengan kehidupan digital hari ini adalah fenomena konten “1 menit jadi paham agama”. Banyak orang rajin menontonnya, lalu merasa sudah cukup belajar. Padahal yang didapat sering kali hanya potongan, bukan pemahaman utuh. Akibatnya, seseorang bisa cepat berkomentar, mudah menyalahkan, bahkan merasa paling benar—hanya karena merasa sudah banyak “mengonsumsi” konten.
Di sinilah kita belajar bahwa ta’allama itu penting, tapi tidak cukup. Ia adalah pintu masuk, bukan tujuan akhir. Jika berhenti di tahap ini, ilmu hanya akan jadi tumpukan informasi—ramai di kepala, tapi sepi pengaruhnya dalam sikap dan perilaku.
Tafahhama: Memahami dengan Akal dan Hati
Ilmu yang hanya berhenti di pengumpulan informasi tidak akan cukup. Karena itu, setelah belajar, seseorang perlu masuk ke tahap tafahhama—memahami. Di fase ini, ilmu tidak lagi sekadar disimpan, tetapi mulai dipikirkan dan direnungkan. Seseorang tidak hanya tahu apa yang diperintahkan, tetapi juga memahami mengapa hal itu diperintahkan.
Contohnya dalam shalat. Orang yang tafahhama tidak melihat shalat hanya sebagai kewajiban yang harus gugur. Ia memahami bahwa shalat adalah proses mendidik diri: melatih disiplin waktu, menenangkan pikiran, dan menjaga perilaku agar tidak mudah terjerumus pada perbuatan keji dan mungkar. Tanpa tafahhama, shalat bisa tetap dikerjakan, tetapi nilainya belum tentu terasa dalam sikap dan karakter.
Dalam kehidupan digital, tafahhama sangat terasa urgensinya. Ketika muncul potongan ceramah yang viral dan terdengar “nyeleneh” atau provokatif, orang yang tafahhama tidak buru-buru bereaksi. Ia tidak langsung share, tidak cepat menyimpulkan, dan tidak gampang terpancing emosi. Ia memilih mencari video utuhnya, membaca penjelasan tambahan, dan memahami konteks pembahasannya.
Sebaliknya, tanpa tafahhama, konten dakwah yang seharusnya menenangkan justru bisa memicu perdebatan, salah paham, bahkan saling menjatuhkan. Di sinilah tafahhama berperan penting: menjaga ilmu tetap jernih, relevan dengan realitas, dan tidak melahirkan kegaduhan yang tidak perlu.
Tarbiyah: Ilmu yang Mendidik dan Membentuk Karakter
Ketika ilmu sudah dipahami dengan akal dan hati, ia tidak boleh berhenti sebagai wacana. Dari tafahhama, perjalanan berlanjut ke tarbiyah—proses pendidikan diri. Di tahap ini, ilmu mulai bekerja dari dalam, membentuk cara bersikap, cara berbicara, dan cara memandang orang lain.
Tarbiyah membuat seseorang sadar bahwa berilmu bukan berarti bebas menghakimi. Justru semakin paham, semakin terasa bahwa ilmu itu amanah. Orang yang terdidik ilmunya akan lebih hati-hati dalam berpendapat, tidak mudah meremehkan, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjatuhkan.
Dalam keseharian, tarbiyah terlihat dari hal-hal sederhana. Misalnya, ketika berbeda pendapat dalam forum atau grup WhatsApp, ia memilih bahasa yang santun. Saat mengoreksi kesalahan orang lain, ia melakukannya dengan niat memperbaiki, bukan mempermalukan. Ilmu yang mendidik selalu melahirkan adab sebelum debat.
Di ruang digital, tarbiyah sangat terasa ujiannya. Orang yang benar-benar menjalani proses tarbiyah tidak mudah terpancing “perang komentar”, tidak gemar menyindir, dan tidak menjadikan agama sebagai alat untuk terlihat paling benar. Ia sadar bahwa dakwah bukan soal menang argumen, tetapi tentang menyentuh hati.
Tarbiyah menjadikan ilmu bukan sekadar membuat seseorang pintar berbicara, tetapi dewasa dalam bersikap. Dari sinilah ilmu mulai tampak wujudnya—bukan dari seberapa keras suara yang disampaikan, melainkan dari seberapa lembut akhlak yang ditampilkan.
Tadribah: Melatih Ilmu dalam Kehidupan Nyata
Setelah ilmu mendidik diri melalui tarbiyah, langkah berikutnya adalah tadribah—latihan. Di tahap ini, ilmu tidak lagi sekadar membentuk sikap batin, tetapi diuji dalam tindakan nyata. Karena sejatinya, karakter yang baik tidak lahir dari niat saja, melainkan dari kebiasaan yang terus dilatih.
Tadribah adalah fase jatuh-bangun. Tidak selalu rapi, tidak selalu sempurna. Seseorang bisa saja sudah paham dan beradab, tetapi tetap tergelincir oleh emosi, ego, atau situasi. Bedanya, orang yang berada di tahap tadribah sadar saat salah dan mau memperbaiki, bukan merasa paling benar.
Dalam kehidupan sehari-hari, tadribah terlihat ketika seseorang melatih kesabaran menghadapi orang-orang yang berbeda karakter: murid yang sulit diatur, jamaah yang banyak maunya, atau rekan kerja yang kurang sejalan. Ia berusaha menerapkan ilmunya, meski kadang masih tersulut emosi, tapi tidak berhenti belajar mengendalikan diri.
Di ruang digital, tadribah justru lebih terasa. Menahan diri untuk tidak ikut menyebarkan hoaks, memilih kata yang lebih tenang saat menulis komentar, atau bahkan memutuskan untuk tidak merespons provokasi—semua itu adalah bentuk latihan yang nyata. Hal sederhana, tapi berat jika tidak dilatih.
Tadribah mengajarkan bahwa ilmu butuh dibiasakan. Tanpa latihan, ilmu hanya akan menjadi teori yang indah di kepala, tetapi rapuh saat diuji. Dengan tadribah, ilmu mulai mengakar, pelan-pelan menjadi bagian dari diri, dan siap dibawa ke tahap berikutnya: konsistensi yang sesungguhnya.
Istiqamah: Konsisten di Jalan yang Benar
Jika tadribah adalah tentang latihan, maka istiqamah adalah tentang bertahan. Di tahap ini, tantangannya bukan lagi apakah kita bisa berbuat baik, tetapi apakah kita sanggup terus berbuat baik. Istiqamah sering kali terasa lebih berat daripada memulai, karena ia menuntut kesabaran dalam jangka panjang.
Istiqamah berarti tetap berada di jalur yang benar meskipun hasilnya tidak selalu langsung terlihat. Tetap jujur meski jalan pintas lebih cepat, tetap santun meski respons keras lebih ramai, dan tetap lurus meski banyak contoh penyimpangan di sekitar kita.
Dalam kehidupan sehari-hari, istiqamah terlihat dari hal-hal yang sering dianggap sepele. Misalnya, terus menjaga amanah meskipun tidak diawasi, konsisten mengajar atau berdakwah meski jamaah tidak selalu ramai, atau tetap disiplin beribadah di tengah jadwal yang padat. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada sorotan—hanya kesadaran bahwa ini adalah jalan yang benar.
Di era digital, istiqamah punya tantangan tersendiri. Algoritma sering lebih mengangkat konten sensasional daripada yang substansial. Banyak orang tergoda mengubah gaya dakwahnya agar lebih viral, meski harus mengorbankan adab dan kedalaman. Orang yang istiqamah memilih tetap menyampaikan kebaikan dengan cara yang benar, meskipun views-nya biasa saja.
Istiqamah juga berarti konsisten dalam nilai, bukan hanya dalam aktivitas. Bukan sekadar rajin posting konten dakwah, tetapi menjaga kejujuran, niat, dan adab di balik layar. Karena istiqamah sejati tidak selalu terlihat ramai—tapi ia kuat, tenang, dan berumur panjang.
Dari istiqamah inilah, kebaikan mulai bertumbuh dengan cara yang tidak selalu mencolok. Dan di sanalah, perlahan, lahir sesuatu yang sering dicari banyak orang: barakah.
Barakah: Kebaikan yang Selaras dengan Syariat dan Realitas
Setelah melalui proses panjang—belajar (ta’allama), memahami (tafahhama), dididik (tarbiyah), dilatih (tadribah), dan dijaga dengan istiqamah—barulah seseorang sampai pada barakah. Barakah bukan sesuatu yang instan, apalagi hasil dari jalan pintas. Ia tumbuh perlahan sebagai buah dari proses yang dijalani dengan benar dan konsisten.
Salah satu penekanan penting dalam materi ini adalah bahwa barakah tidak mungkin lahir dari sesuatu yang bertentangan dengan syariat dan data yang jelas. Jika suatu hal diklaim barakah, tetapi prosesnya melanggar aturan Allah, mengabaikan akal sehat, atau menutup mata dari fakta, maka klaim tersebut patut dipertanyakan. Barakah selalu sejalan dengan nilai, logika, dan realitas—bukan berdiri di atas manipulasi.
Gambaran ini terasa sangat relevan ketika kita melihat kasus yang ditampilkan dalam film Walid, yang juga mencerminkan fenomena di Indonesia akhir-akhir ini. Film tersebut menunjukkan bagaimana istilah barakah digunakan sebagai tameng untuk membenarkan perilaku yang sejatinya menyimpang. Di titik ini, barakah tidak lagi dipahami sebagai buah dari proses yang lurus, melainkan dijadikan alat legitimasi hawa nafsu dan kepentingan pribadi.
Dalam film Walid, sosok tokoh agama digambarkan tidak hadir sebagai pendidik yang membebaskan, tetapi sebagai figur yang membangun kuasa. Klaim barakah diproduksi melalui narasi spiritual, simbol kesalehan, dan bahasa agama yang sulit dipertanyakan. Akibatnya, relasi menjadi timpang: satu pihak selalu benar atas nama “ilmu”, sementara pihak lain dipaksa tunduk atas nama “iman”.
Fenomena semacam ini juga tidak asing di ruang publik kita. Ada tokoh agama yang membungkus kedekatan personal, relasi tidak sehat, bahkan pemuasan hawa nafsu dengan istilah barakah, karamah, atau “keistimewaan spiritual”. Ketika praktik tersebut dikritisi, kritik justru dibungkam dengan dalih seperti, “kamu belum paham ilmunya”, “ini urusan batin”, atau “jangan su’udzon pada orang saleh”. Pada titik inilah agama berhenti menjadi cahaya, dan berubah menjadi alat kuasa.
Padahal, sebagaimana ditegaskan dalam materi ini, barakah tidak pernah lahir dari proses yang menabrak syariat, melukai martabat manusia, dan mematikan akal sehat. Barakah tidak pernah menuntut seseorang kehilangan logika, apalagi harga dirinya. Jika suatu praktik disebut barakah, tetapi membuat orang lain takut bertanya, tidak berani menolak, atau dipaksa menerima atas nama agama, maka yang bekerja di sana bukanlah barakah, melainkan manipulasi.
Film Walid menjadi cermin yang jujur tentang realitas di era digital dan krisis literasi keagamaan: istilah yang sakral bisa disalahgunakan untuk membungkus nafsu. Yang tampak suci di luar, bisa jadi rapuh dan gelap di dalam. Karena itu, tahapan tafahhama—memahami secara utuh—menjadi sangat penting agar kita tidak mudah terpesona oleh klaim, tetapi berani mengujinya dengan nilai, data, dan nurani.
Barakah sejati tidak pernah lahir dari kultus individu, relasi yang timpang, atau ketaatan yang membungkam akal. Barakah lahir dari proses yang menjaga adab, kejujuran, dan kemanusiaan. Dan ketika agama digunakan untuk menindas, mengeksploitasi, atau memuaskan hawa nafsu, di situlah kita tahu: yang hilang bukan sekadar etika—tetapi barakah itu sendiri.
Karamah: Anugerah, Bukan Tujuan
Setelah barakah, ada satu istilah yang sering dibicarakan dengan nada kagum, bahkan kadang diburu: karamah. Padahal, karamah bukanlah target, apalagi prestasi spiritual. Ia adalah anugerah Allah, bukan sesuatu yang bisa direncanakan atau dipamerkan.
Karamah tidak lahir dari ambisi ingin terlihat “istimewa”, tetapi dari keikhlasan menjaga proses. Orang yang benar-benar berjalan di jalur ilmu, adab, dan istiqamah biasanya bahkan tidak sibuk membicarakan karamah. Fokusnya tetap pada amanah, bukan keistimewaan.
Di era digital, karamah sering disalahpahami. Hal-hal yang terlihat unik, ekstrem, atau di luar kebiasaan mudah diviralkan dan langsung dilabeli “karamah”. Padahal, sesuatu yang melanggar syariat, akal sehat, atau etika tidak bisa disebut karamah, meskipun tampak luar biasa.
Karamah sejati sering kali justru tidak terlihat dramatis. Ia hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: dijaga dari penyimpangan, dilapangkan hatinya untuk menerima nasihat, atau dimampukan tetap lurus di tengah dunia yang penuh kompromi. Tidak trending, tidak viral, tapi bernilai besar di sisi Allah.
Bagi seorang da’i, guru, atau pegiat dakwah, karamah bisa berupa istiqamah menyampaikan kebenaran meski sepi apresiasi, atau tetap rendah hati meski dipuji banyak orang. Di zaman ketika eksistensi sering diukur dari angka, kemampuan untuk tidak tergoda itulah keistimewaan.
Pada akhirnya, rangkaian ini mengajarkan satu hal penting: jika prosesnya benar, hasilnya akan Allah jaga. Kita cukup memastikan langkah kita lurus—belajar, memahami, dididik, dilatih, dan dijaga dengan istiqamah. Soal barakah dan karamah, biarlah Allah yang menentukan.
Karena keistimewaan tertinggi bukanlah terlihat hebat, tetapi selamat hingga akhir.
*Muhammad Miftahuddin, Kader MKDM 2 PD DMI Gresik, Pengurus PC PRIMA-DMI Bungah, Pendidik di PP Robithotul Ashfiya‘

