DUDUKSAMPEYAN | NUGres – Sabtu malam sering diasosiasikan dengan suasana romantis. Di banyak tempat, kafe dan jalan kota mendadak berubah jadi ruang khusus para muda-mudi yang menikmati akhir pekan. Namun di salah satu sudut Kecamatan Duduksampeyan, Kabupaten Gresik, suasana malam itu nampak berbeda.
Sekelompok pelajar memilih menghabiskan malamnya di Wongso Cafe. Mereka tidak sedang mencari hiburan, melainkan untuk “Ngopi” atau Ngolah Pikir, yang digelar oleh Departemen Kaderisasi Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU IPPNU Duduksampeyan.
Di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang menuntut semua hal harus cepat diupload, lucu, dan viral, mereka justru berdiskusi tentang kepemimpinan dengan membawa nilai-nilai Aswaja.
Bagi mereka, waktu bukan sekadar 24 jam yang berlalu begitu saja. Waktu adalah amanah. Ia bisa menjadi manfaat, bisa juga keburukan. Tergantung bagaimana manusia mengelolanya.
Dalam arus algoritma media sosial, kecepatan informasi seringkali mengalahkan kedalaman makna dalam ruang kejernihan pikiran dan hati. Maka, ijtihad dan ikhtiar untuk tetap berpikir jernih menjadi keniscayaan, terlebih bagi pelajar yang mendaku paham Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.

Sebagai organisasi kaderisasi generasi muda, IPNU IPPNU dihadapkan pada tantangan zaman yang tidak mudah. Semangat belajar, berjuang, dan bertaqwa tak lagi cukup hanya diucapkan dalam forum formal. Ia perlu dihidupi, dijalani dengan kesadaran penuh di dunia nyata maupun dunia digital.
Nilai-nilai Aswaja tentu menjadi pegangan utama yakni al-tawassuth (bersikap tengah), at-tawazun (bertindak seimbang), al-i’tidal (berpihak pada keadilan dan kebenaran), dan al-Tasamuh yakni bersikap toleran. Cakupan nilai ini menjadi landasan tema “Transformasi Kepemimpinan di Era Digital”, yang dibedah dalam forum “Ngopi” PAC IPNU IPPNU Duduksampeyan, Sabtu (4/10/2025).
Dua narasumber dihadirkan, yakni Ketua mandataris Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Gresik periode 2025 – 2027, M. Fatkur Rohman, dan Ketua Mandataris PC Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Gresik, Aminatus Sholihah.
Keduanya mengulas bagaimana seorang pemimpin muda harus menavigasi perubahan zaman dengan nalar kritis, tapi tetap berpijak pada nilai Aswaja.
“Mari kita manfaatkan forum ini untuk upgrade diri agar IPNU IPPNU Duduksampeyan bisa berkembang dengan baik,” ajak Ketua PAC IPNU Duduksampeyan, M. Faris Sholahudin Al Ayyubi
Rekan Rohman dan rekanita Aminah kemudian menekankan bahwa kepemimpinan hari ini tak cukup hanya cakap dalam lingkup organisasi. Seorang pemimpin juga harus melek digital, tangguh menyaring informasi, dan mampu menimbang antara konten viral dan substansi.
Transformasi kepemimpinan, menurut mereka, bukan soal ganti gaya atau penampilan, tapi perubahan cara berpikir. Menjadi pemimpin yang tetap berpegang pada at-tawassuth, menjaga keseimbangan at-tawazun, dan berani tegak lurus al-i’tidal.
Nilai-nilai itu tidak semanis hanya berhenti di forum formal atau non formal, tapi akan diuji setiap hari, di layar ponsel, di kolom komentar, hingga mewujud cara generasi muda menentukan arah hidupnya.
Malam pun mulai larut. Kopi di meja sudah mulai dingin. Namun semangat “Ngolah Pikir” malam itu justru terasa makin mengendap dalam keakraban. Kegiatan “Ngopi” ini menjadi bentuk ikhtiar kecil membawa seteres air di tengah kobaran api arus algoritma, bahwa masih ada anak muda yang memilih berjalan tegak untuk terus belajar.
Penulis: Febrian Kisworo
Editor: Chidir Amirullah

