SIDAYU | NUGres – Upaya menggali sejarah dan kontribusi dari sosok Mbah Kanjeng Sepuh Sidayu melalui warisan peradaban bernilai tinggi di komplek Kadipaten Sidayu terus dilakukan oleh Takmir Masjid Besar Kanjeng Sepuh (MBKS) Sidayu, Gresik, melalui Divisi Situs dan Purbakala naungannya.
Seperti diketahui, pasca menghadirkan sejarawan dan penulis buku Sidayu, Eko Jarwanto pada pertemuan sebelumnya, memasuki kajian sejarah yang kali ketiga ini menghadirkan narasumber yang merupakan pegiat aksara dan manuskrip yakni Diaz Nawaksara.
Sementara biasanya digelar pada malam hari, kali ini kajian sejarah Mbah Kanjeng Sepuh Sidayu digelar pada siang hari. Tepatnya selepas salat duhur, Ahad Wage 6 Juli 2025, dan berlangsung di Aula Masjid Besar Kanjeng Sepuh Sidayu.
Dalam kesempatan itu, Gus Didin sapaan akrab founder situs Nawaksara.id itu menjelaskan secara gamblang sebaran peninggalan bersejarah berupa simbol dan kode atau yang biasa disebut dengan inskripsi, yang tersebar di komplek Masjid Besar Kanjeng Sepuh Sidayu, Gresik.
Gus Didin, mengungkapkan setidaknya terbagi dua kelompok inti terhimpunnya inskripsi yang tersebar di lokasi kadipaten Sidayu, yakni berada di masjid dan juga di komplek makam Kanjeng Sepuh Sidayu.
“Yang pertama adalah masjid. Dimana di masjid ini lebih banyak prasasti-prasasti mengenai lini masa pembangunan dan pembuatan ragam motif hias dalam masjid. Yang kedua adalah di komplek makam, di komplek makam ini ada banyak prasasti tentang silsilah keluarga, nama tokoh, masa kepemimpinan para bupati di Sidayu,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Gus Didin menjelaskan bahwa telah merangkum dua hal atas inskripsi yang ia kaji di komplek Masjid Besar Sidayu. Yakni simbol dari bahasa dan varian aksara yang digunakan.
“Bahasanya di dalam dua tempat tadi itu ada beberapa varian. Yakni ada yang berbahasa Arab yaitu tulisan yang memang berbahasa Arab dan tentu teksnya—teks Arab. Ada yang berbahasa Jawa. Ada berbahasa Melayu, ada yang berbahasa Belanda,” sambung pria yang juga bergiat di komunitas Manuskripedia ini.
Kemudian, Gus Didin bilang bahwa untuk aksaranya terdapat aksara pegon yang dipastikannya berbahasa Jawa. Kemudian ada yang beraksara carakan yang juga berbahasa Jawa. Ada pula yang beraksara Jawi hingga aksara Latin atau Romen.
“Perlu dicatat bahwa di Gresik ini saya baru menemukan dua lokasi yang mana dalam satu tempat terdapat multiple-script atau terdapat banyak aksara. Pertama di komplek Bupati Poesponegoro, yang dalam presentasi saya sebutkan Prasasti Ring Asmarantaka. Di sana ada aksara Jawa, Aksara Kawi, Aksara Pegon dan Aksara Arab,” tambahnya.
Selanjutnya, Gus Didin menyebut yang kedua di komplek Masjid Kanjeng Sepuh Sidayu ini. Lokasi dimana terdapat multiple-scritp bahkan lebih dari yang ada di malam Bupati Poesponegoro.
“Di komplek inilah multiple language, atau berbagai macam bahasa. Contohnya apa? Ketika di Poesponegoro tidak ada yang berbahasa Melayu, tidak ada yang beraksara Jawi. Di sana berbahasa Jawa semua, atau yang lebih tua mungkin Kawi. Nah, di sini ada yang berbahasa Melayu, beraksara Latin, bahkan berbahasa Belanda. Artinya, itu adalah salah satu komplek purbakala masterpiece dalam hal literatur. Dan itu, saya kira tidak bisa ditemui disembarang tempat. Tidak semua tempat mempunyai keunggulan atau variasi aksara yang sebegini banyaknya,” lanjutnya.
Kesempatan ini tampak dioptimalkan Gus Didin untuk memperkenalkan melimpahnya keunikan inskripsi yang tersebar di Masjid, mulai dari gapura masjid bagian tengah, mimbar dan mihrab. Lebih gamblang, pemaparan Gus Didin dapat disimak kembali pada dokumentasi Kajian Sejarah Kanjeng Sepuh Sidayu yang dapat disimak di saluran YouTube NUGres Channel, yang kali ini mengangkat tema; “Membongkar Rahasia Simbol di Makam dan Masjid Besar Kanjeng Sepuh Sidayu”.
Kajian ini tampak diikuti secara antusias oleh sejumlah pengurus Takmir Masjid Kanjeng Sepuh Sidayu, komunitas pegiat sejarah dan budaya yang tersebar di Kabupaten Gresik hingga Lamongan. Mereka diajak narasumber membedah inskripsi yang tersebar di Masjid Kanjeng Sepuh Sidayu, Gresik.
Editor: Chidir Amirullah

