BUNGAH | NUGres – Memasuki separuh perjalanan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Bungah istikamah melanjutkan rutinitas mengaji kitab dalam bingkai Lailatul Kopdar ke-14. Acara berlangsung khidmat di Gedung MWCNU Bungah ini dihadiri oleh jajaran syuriyah, tanfidziyah, serta kader-kader muda dari baik dari Fatayat, IPNU, dan IPPNU.
Pada Kamis 5 Maret 2026, hadir sebagai narasumber, Ning Ainul Mahmudah memandu pembacaan kitab peninggalan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Pada pertemuan kali ini, pembahasan difokuskan pada bab “Damut Taasubi fi Furu’iddin”, yakni tercelanya sifat fanatik dalam urusan cabang agama, di mana ia menjelaskan sikap fanatik yang dapat merusak ukhuwah.
Dalam paparannya, Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Bungah itu menjelaskan bahwa sikap fanatik dalam hal yang bukan prinsip (furu’iyyah) sangat dilarang oleh Allah SWT dan tidak diridai oleh Rasulullah SAW. Contoh nyata dari sikap ini adalah merasa mazhab sendiri yang paling benar dan menyalahkan mazhab orang lain.
“Kita tidak boleh fanatik berlebihan, misalnya sampai tidak mau berjamaah hanya karena berbeda mazhab. Perbedaan pendapat di kalangan umat itu sebenarnya adalah rahmat,” ungkap Ning Inul, demikian sapaan akrabnya.
Ning Inul kemudian mencontohkan perbedaan penentuan awal Ramadan yang kerap terjadi. Menurutnya, baik yang menggunakan metode hisab maupun rukyat, masing-masing memiliki dasar dalil yang kuat dan harus saling dihormati.
Ia juga mengisahkan keteladanan Imam Syafi’i saat berziarah ke makam Imam Abu Hanifah. Meskipun Imam Syafi’i berpendapat bahwa Qunut Subuh adalah sunnah, beliau memilih untuk tidak berqunut saat salat Subuh di lingkungan makam Imam Abu Hanifah sebagai bentuk ta’adub atau penghormatan.
“Imam Syafi’i saja memberikan contoh luar biasa dalam menghormati perbedaan pendapat. Maka sangat tidak elok jika kita yang orang biasa justru saling gontok-gontokan hanya karena masalah Qunut atau perbedaan hari puasa,” imbuhnya.
Secara khusus, Ning Inul memberikan pesan kepada rekan-rekan IPNU dan IPPNU agar tidak mudah ikut-ikutan paham ekstrem yang sering mengharamkan hal-hal furu’iyyah secara serampangan. Kader NU diharapkan memiliki sikap Moderat (Tawasut) dan Toleran (Tasamuh).
“Boleh berbeda pendapat dalam masalah cabang agama, tapi dalam hubungan sosial kita harus tetap bersatu agar hidup aman, tentram, dan sentosa,” pungkasnya. Kegiatan Lailatul Kopdar ke-14 ini ditutup dengan pembacaan doa Kafaratul Majelis, khataman Al-Qur’an dan ramah tamah antar pengurus serta banom NU se-Kecamatan Bungah.
Penulis: Maghfur Munif
Editor: Chidir Amirullah

