PANCENG | NUGres – Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (Lesbumi NU) Lamongan bersama Lesbumi NU Gresik serta Komunitas Legian, resmi memulai penyelenggaraan Pesantren Ramadan Islam Nusantara (Pramistara) angkatan VII. Kegiatan ini berlangsung mulai 6-8 Maret di Pondok Pesantren Al-Ikhlash Mulyorejo, Desa Dalegan, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik.
Pembukaan Pramistara VII berlangsung pada Jumat (6/3/2026) malam, dirangkaikan dengan Haul ke-5 KH Agus Sunyoto merupakan ulama, budayawan, sekaligus penulis yang dikenal luas atas kiprahnya merawat dan mengembangkan tradisi Islam Nusantara.
Pada tahun ini, Pramistara VII mengusung tema “Reorientasi Islam Nusantara sebagai Gerakan Sosial Progresif di Tengah Dinamika Era Artifisial”. Tema tersebut menegaskan pentingnya Islam Nusantara untuk terus beradaptasi serta mampu memberikan jawaban atas berbagai tantangan zaman, termasuk perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial.
Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada kajian keilmuan, tetapi juga menghidupkan semangat sosial di tengah masyarakat. Rangkaian kegiatan meliputi pesantren Ramadan berupa kajian kitab, diskusi sejarah Islam Nusantara, serta penguatan spiritualitas santri. Selain itu, terdapat pula gerakan sosial seperti berbagi dengan kaum dhuafa, memperkuat solidaritas, dan menumbuhkan kepedulian lintas generasi.
Dalam sambutannya, KH Alfin Sunhaji selaku pengasuh Pondok Pesantren Al-Ikhlash Mulyorejo menegaskan bahwa Pramistara merupakan gerakan yang meneguhkan Islam Nusantara sebagai jalan dakwah yang penuh hikmah, toleransi, dan cinta tanah air, sekaligus progresif dalam merespons perkembangan zaman.
Ia juga mewedar pesan mendalam kepada jamaah majelis Haul ke-5 almaghfurlah K. Ng. H. Agus Sunyoto serta para peserta Pramistara VII untuk menguatkan keyakinan dalam berjuang dan berkhidmat untuk umat dan bangsa.
“Kalau kita itu berjuang di jalan Allah— jāhadụ fīnā lanahdiyannahum subulanā, rata-rata pejuang yang saya lihat di berbagai wilayah, di mana saja, orang-orang yang kuat dalam perjuangannya—putra-putrinya, dzuryiatnya, ditata oleh Allah Swt, karena peduli, memikirkan umat, memikirkan kepentingan bersama, tidak memikirkan dirinya sendiri. Dan itu buahnya akan dipetik oleh keturunannya. Insya Allah kita semua ini berjuang di jalan itu,” pesan Kiai Alfin, sambil mengajak untuk ikhlas dalam berjuang, mendedikasikan khidmah untuk bangsa, umat, dan khususnya Nahdlatul Ulama.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Gus Zulfikar, putra almarhum KH Agus Sunyoto. Ia mengenang sosok ayahnya sebagai tokoh yang tidak hanya berdakwah melalui tulisan dan pemikiran, tetapi juga melalui laku hidup yang penuh kasih sayang.
“Bapak memiliki kebiasaan memberi makan orang gila dan monyet. Laku ini bukan sekadar tindakan sosial, melainkan simbol kasih sayang universal yang melampaui batas manusia dan makhluk lain. Dari sini kita belajar bahwa Islam Nusantara adalah Islam yang merangkul, mengasihi, dan menebarkan rahmat bagi seluruh alam,” tutur Gus Zulfikar dalam serangkaian kisah yang disampaikan.
Pramistara VII dijadwalkan berlangsung hingga 18 Ramadan 1447 H dengan berbagai rangkaian kegiatan, seperti kajian keilmuan, bazar, serta aksi sosial. Melalui kegiatan ini, panitia berharap generasi muda dapat melanjutkan cita-cita KH Agus Sunyoto dalam merawat tradisi, sejarah, dan nilai kasih sayang Islam Nusantara, sekaligus meneguhkan relevansinya sebagai gerakan sosial progresif di tengah dinamika era artifisial.
Editor: Chidir Amirullah

