Sarasehan “Arus Balik Kebudayaan dan Peradaban” Jadi Penutup Pameran Lukisan di Gedung DPRD Gresik

Redaksi NUGres Redaksi NUGres
Sarasehan “Arus Balik Kebudayaan dan Peradaban” Jadi Penutup Pameran Lukisan yang dilaksanakan oleh Sanggar Lentera mulai 14 - 16 Mei 2025 di Gedung DPRD Gresik. Foto: Chidir/NUGres

GRESIK | NUGres – Suasana hangat terasa di Gedung DPRD Gresik pada Jumat malam (16/5/2024), ketika masyarakat berbondong-bondong hadir dalam penutupan pameran lukisan bertajuk “Arus Balik Kebudayaan: Gresik sebagai Kota Perdagangan dan Peradaban.”

Berlokasi di Jalan Raya Wachid Hasyim, Kecamatan Gresik, acara ini menjadi penutup dari rangkaian pameran lukisan yang digelar oleh Sanggar Lentera. Teras gedung yang merupakan cagar budaya itu disulap menjadi ruang ekspresi budaya, lengkap dengan hamparan tikar, dua termos besar berisi kopi dan wedang jahe, serta suguhan kudapan tradisional seperti polo pendem yang tersaji di atas talam anyaman bambu.

Animo Tinggi Masyarakat

Pameran ini mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat umum hingga menjadi ruang silaturahmi seniman dan budayawan di Gresik. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun turut hadir, menikmati karya seni dari berbagai seniman lokal.

“Alhamdulillah, kami tidak menyangka antusiasme masyarakat begitu tinggi. Banyak yang baru pertama kali masuk ke gedung DPRD ini karena biasanya merasa canggung. Tapi lewat seni, mereka datang dengan suka cita,” ujar Syarifuddin atau Pak Arif, seniman sekaligus pendidik madrasah yang turut memamerkan karya lukisnya.

Musik, Macapat Gagrak, dan Dialog Budaya

Acara malam itu dipandu oleh budayawan senior Gresik, Kris Adji Wahono. Suasana semakin hidup saat Dzun Nun, pemuda Gresik yang menekuni seni musik klasik, tampil membawakan beberapa melodi gitar akustik, termasuk lagu legendaris Romance de Amour. Dzun juga berbagi cerita tentang perjalanannya belajar musik, termasuk saat kuliah di Institut Kesenian Jakarta.

Penampilan dilanjutkan dengan lantunan tembang Macapat dari Bening Khoirul Anam, alumni sastra Jawa, yang membawakan tembang Pangkur dari Serat Wedhatama, serta Asmaradana Gagrak Gresik yang khas dengan teknik nyengga’i.

Refleksi Budaya dan Sejarah Maritim Gresik

Dalam sesi dialog, Ketua DPRD Gresik Syahrul menyampaikan pentingnya menghadirkan dimensi spiritual dan kebudayaan di tengah pembangunan sosial dan ekonomi. Ia bahkan mengusulkan untuk menghadirkan seni Macapat dalam sidang paripurna dewan.

“Ini bagian dari tugas kita bersama, tidak hanya fokus pada aspek ekonomi, tapi juga memperkuat nilai-nilai spiritual dan budaya,” ujar Syahrul.

Ia juga menyoroti pentingnya memahami sejarah Gresik sebagai kota pelabuhan dan perdagangan internasional sejak abad ke-14. “Pelabuhan Gresik adalah mercusuar perdagangan Nusantara. Kemajuannya tidak lepas dari peran para syahbandar seperti Maulana Malik Ibrahim, Nyai Ageng Pinatih, hingga Raden Santri, yang menguasai diplomasi dan menjadi jembatan akulturasi budaya,” tambahnya.

Menurutnya, Gresik kala itu adalah pusat transit jalur pelayaran strategis dari Selat Malaka menuju Maluku. Hal ini menjadikan Gresik dijuluki Permata Pulau Jawa.

Potensi Multisektor Gresik

Syahrul juga mengingatkan bahwa potensi Gresik sangat kompleks dan tidak bisa hanya disederhanakan pada satu sektor. Dulu, Gresik dikenal sebagai kota dagang dengan komoditas yang sangat beragam: tekstil, hortikultura, rempah-rempah, ternak, hingga produk ekspor lainnya.

“Gresik lebih dari sekadar daerah industri atau perikanan. Ia adalah simpul sejarah, budaya, dan perdagangan yang saling menguatkan,” pungkasnya.

Kegiatan ini juga mendapatkan respons dari hadiri. Sedikitnya terdapat dua sesi tanya jawab yang masing-masing sesi memberi kesempatan tiga orang bertanya maupun memberikan tanggapan atas pemaparan Ketua DPRD Gresik tersebut.

Editor: Chidir Amirullah

Leave a comment