Dari kirab hingga Lailatul Ijtima’, warga Nahdliyin Tajungwidoro menyalakan kembali ruh perjuangan santri dalam harmoni keislaman dan kebangsaan.
BUNGAH | NUGres – Di sebuah desa pesisir di utara Gresik, bulan Oktober lalu terasa istimewa. Tajungwidoro—nama itu tak sekadar wilayah, melainkan cermin semangat kebersamaan warga Nahdliyin yang meneguhkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Di sinilah, semangat para santri seolah tak pernah padam, menyala dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Tajungwidoro bersama Banom (Badan otonom) dan lembaga naungannya, telah menuntaskan gelaran kegiatan bertajuk “Semarak Hari Santri Nasional 2025”. Kendati pun waktu telah berlalu, makna yang ditinggalkan masih kuat terasa hingga kini.
Dengan mengusung tema “Jihad Santri Jayakan Negeri,” rangkaian kegiatan itu menjadi peneguhan kembali tentang arti jihad dalam konteks kekinian. Yakni perjuangan menjaga agama, membangun masyarakat, dan memperkuat ukhuwah.
Sejak 22 Oktober hingga 2 November 2025, semangat santri Tajungwidoro bergema di setiap sudut desa. Dari halaman madrasah hingga pelataran masjid, dari taman mangrove hingga jalan kampung, semuanya menjadi ruang kebersamaan.
Kirab dan upacara santri yang digelar tepat pada momentum Hari Santri Nasional bekerja sama dengan LP Ma’arif NU, Rabu 22 Oktober 2025, menjadi pembuka perayaan dengan gegap gempita. Anak-anak berseragam putih berbaris rapi, sementara irama drumband dari Lamongan menggema, membangkitkan kebanggaan akan identitas santri.
Malam berikutnya, Kamis 23 Oktober 2025, suasana berubah khusyuk. Di serambi Masjid Jami’ Tajungwidoro, lantunan Maulid Diba’ dan Khatmil Qur’an bergema hingga fajar. Para santri muda, jamaah, dan masyarakat larut dalam doa bersama, memohon keberkahan bagi bangsa dan umat.
Tak berhenti di situ, semangat kebangsaan turut dihidupkan melalui nonton bareng film “Sang Kiai.” Di bawah langit yang sempat diguyur hujan pada Rabu 28 Oktober 2025, warga tetap bertahan, seolah ingin menyelami kembali perjuangan Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, simbol keberanian dan keikhlasan seorang ulama pejuang.
Beragam kegiatan lain menjadi jembatan pembinaan dan kebersamaan. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), pada Kamis 29 Oktober 2025, ambil bagian dengan menggelar Lomba Adzan Subuh untuk anak-anak TPQ, SD, dan MI. Menjadi wahana melatih keberanian dan menempa mental pelajar dalam mengumandangkan panggilan suci.
Sementara itu, malam puncak spiritual bertajuk Lailatul Ijtima’ menghadirkan suasana religius yang mendalam. Masjid Jami’ Tajungwidoro pada Sabtu malam, 31 Oktober 2025, tampak semarak oleh jamaah dari berbagai wilayah. Lantunan sholawat, dzikir, dan doa bersama memancar dari hati yang tulus, menyatukan para pengurus, tokoh masyarakat, dan warga dalam satu nafas keimanan.
“Lailatul Ijtima’ bukan sekadar forum rutin,” ujar Ketua Tanfidziyah PRNU Tajungwidoro, Ahmad Abdullah Badi’. “Ia adalah sarana mempererat silaturahmi, memperkuat nilai-nilai ke-NU-an yang menjadi jantung kehidupan santri,” kisah Gus Badi’ kepada NUGres, Kamis (13/11/2025).
Menyemarakkan suasana, anak-anak turut ambil bagian dalam Karnaval Mini Islami dan Lomba Mewarnai pada Sabtu malam, 1 November 2025. Mereka berjalan dengan busana islami, memancarkan keceriaan dan kebanggaan sebagai bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama. Di tangan-tangan mungil itu, warna-warna cerah menggambar masjid, kitab, dan bendera merah putih, simbol harmoni antara agama dan kebangsaan.
Acara penutupan berlangsung di Taman Wisata Kuliner Mangrove (Wrakas) pada Ahad malam, 2 November 2025. Panggung kebersamaan itu dibuka dengan lagu “Yalal Wathon” yang menggema dari paduan suara Muslimat NU, diikuti penyerahan penghargaan dan pembagian hadiah bagi para peserta lomba. Namun, lebih dari itu, yang tersisa adalah rasa: rasa memiliki, rasa bangga, dan rasa tanggung jawab untuk menjaga semangat santri agar tetap hidup di setiap denyut kehidupan masyarakat.
Gus Badi’ juga menyampaikan harapan yang tetap relevan hingga kini. “Semoga semangat santri di Tajungwidoro terus diteguhkan. Menjadi pelanjut perjuangan ulama, pengabdi masyarakat, dan penjaga nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin,” tuturnya penuh harap.
Kini, mungkin sorak-sorai kirab telah usai, lampu panggung telah padam, dan spanduk Hari Santri telah berganti agenda baru. Namun jejaknya tetap terpatri dalam ingatan: bahwa di Tajungwidoro, semangat santri bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan cara hidup, sebuah warisan perjuangan yang terus menyala dari surau ke surau, dari hati ke hati.
Editor: Chidir Amirullah

