KEBOMAS | NUGres – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kebomas menggelar ngaji rutin kitab Sullamut Taufiq yang dirangkai dengan doa bersama atas musibah yang telah terjadi di Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo. Kegiatan tersebut berlangsung di Masjid Mambaul Ulum, Kelurahan Sidomoro, Kecamatan Kebomas, pada Jumat (10/10/2025).
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian pembuka peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2025 di lingkungan MWCNU Kebomas. Selain memperkuat tradisi keilmuan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana mempererat ukhuwah antarwarga Nahdliyin.
Pengajian kitab Sullamut Taufiq dipimpin oleh Ustadz Nur Fatkhul Arifin dari Singosari. Dalam penyampaiannya, ia menekankan pentingnya menjaga kewajiban hati sebagai dasar pembentukan akhlak dan keimanan yang kuat bagi setiap muslim.
Sementara itu, Katib MWCNU Kebomas, KH Mafrudi Abdul Djalil, menyampaikan empat hal di dalam Nahdlatul Ulama yang harus dijaga dan diamalkan, yakni amaliah, fikrah, harakah, dan ghirah.
“Keempat hal ini harus senantiasa dijaga oleh seluruh kader dan jamaah NU agar kita tetap istiqamah di dalam jalan perjuangan para ulama,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Mafrudi juga mengajak seluruh warga NU Kebomas untuk turut menyemarakkan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2025.
“Mari kita hidupkan semangat Hari Santri sebagai bukti nyata bahwa santri dan ulama memiliki peran besar dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa,” pesannya.
Ketua MWCNU Kebomas, KH. M. Muchsin Munhamir, menyampaikan apresiasi atas semangat jamaah yang istiqamah mengikuti pengajian rutin ini. Ia juga menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional di MWCNU Kebomas.
“Melalui kegiatan ini, kita mulai membuka rangkaian Hari Santri Nasional 2025. Semoga semangat santri dan tradisi keilmuan ini terus tumbuh dan dapat memberikan kemanfaatan besar di tengah masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, Kiai Muchsin juga mengajak seluruh warga NU untuk memperbanyak doa dan kepedulian terhadap sesama, terutama kepada keluarga besar Pondok Pesantren Al Khoziny.
“Tragedi yang menimpa saudara-saudara kita di Al Khoziny menjadi pengingat agar kita selalu dekat dengan Allah dan saling mendoakan. Doa adalah bentuk kepedulian sekaligus kekuatan umat,” tuturnya, memungkasi.
Kegiatan yang berlangsung penuh khidmat itu ditutup dengan doa bersama sebagai wujud solidaritas atas musibah yang menimpa keluarga besar Pondok Pesantren Al Khoziny Buduran Sidoarjo.
Penulis: Luthfi Anshori
Editor: Chidir Amirullah



