SIDAYU | NUGres – Udara pagi di sekitar Masjid Besar Kanjeng Sepuh Sidayu terasa sejuk. Di masjid bersejarah itu, setiap Jumat ba’da Subuh selalu digelar pengajian kitab Riyadhus Sholihin. Jamaah yang hadir larut dalam suasana penuh khidmah, menyimak penjelasan dari KH Moh. Farhan, seorang kiai sepuh yang kini juga mengemban amanah sebagai Penjabat Rais Syuriyah PCNU Gresik.
Sejak 2 Mei 2025, NUGres Channel turut hadir bukan hanya untuk berjamaah, tetapi juga mendokumentasikan pengajian rutin tersebut di saluran YouTube NUGres Channel.
Dari balik lensa, tergambar jelas kesederhanaan sekaligus keteduhan pribadi Kiai Farhan. Sosok ulama sepuh Nahdlatul Ulama Gresik yang kini mengisi posisi almarhum almaghfurlah KH Mahfudz Ma’shum sebagai Pj Rais Syuriyah PCNU Gresik untuk masa khidmah 2021–2026.
Seperti biasa, tanda kedatangan Kiai Farhan mudah dikenali dari berhentinya deram mesin dan redupnya lampu motor Revo lawas berwarna merah. Kiai Farhan dibonceng warga setempat, saksi atas kesahajaannya. Lalu beberapa orang yang tengah duduk bercengkerama di selasar masjid segera berdiri, bergegas, melangkah menyambutnya.
Dengan kitab tebal didekap erat di lengan, Kiai Farhan menebar senyum tulus. Tangannya tak sekadar menjabat, tetapi kerap terlihat menepuk pundak atau memegang bahu siapa saja yang ditemuinya serta berbincang singkat. Sosok ulama ini terasa begitu hangat, bersahabat, sekaligus dihormati.

NUGres juga melihat pengajian Jumat ba’da Subuh selalu semarak. Jamaah, baik dari kalangan muslimin pun kaum muslimat dari berbagai usia antusias dan khidmat menyimak setiap penjelasan Romo Kiai Farhan.
Selain diarsipkan di NUGres Channel, Humas Masjid Besar Kanjeng Sepuh Sidayu juga istiqamah mengarsipkan pengajian Kiai Farhan, juga pengajian kitab lain dengan sejumlah pengampu lainnya. Sebuah ikhtiar menjaga agar ilmu yang berlimpah dari masjid bersejarah itu tetap terdokumentasi.
Hingga suatu Jumat, 26 September 2025, ada momen kecil yang begitu membekas. Saat bersalaman di akhir ngaji ba’da Subuh, Kiai Farhan menanyakan sesuatu kepada awak NUGres. “Ten pundi rencange sampean sing biasane, kok mboten ketingal? Mboten sakit kan, nggih?”. Awak NUGres pun tertegun dengan pertanyaan yang tidak bisa dijawab.
Pertanyaan itu terdengar sederhana, namun terasa begitu dalam. Dari sorot mata dan nada suara beliau, tergambar kepedulian seorang kiai yang tidak hanya mengajar dan menuntun, tetapi juga memperhatikan orang-orang di sekitarnya dengan penuh kasih.
Kesederhanaan dan kepedulian itulah yang menjadikan sosok Kiai Farhan begitu dekat di hati jamaah—hadir bukan hanya sebagai pengampu ilmu, tetapi juga sebagai teladan kehangatan, meminta nasihat dan mungkin juga menyampaikan keluhan.
Editor: Chidir Amirullah

