Khutbah Jum’at: Ramadan, Penegasan Kesadaran Spiritual dan Sosial

Redaksi NUGres Redaksi NUGres
Ramadan, Penegasan Kesadaran Spiritual dan Sosial. Ilustrasi: Ai Generated

Oleh: Ustadz Ali Sodikin, M.Pd.I*

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي بَلَّغَنَا شَهْرَ شَعْبَانَ، وَنَسْأَلُهُ أَنْ يُبَلِّغَنَا رَمَضَانَ وَنَحْنُ فِي صِحَّةٍ وَإِيْمَانٍ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Ma’asyiral muslimin jamaah jum’ah rahimakumullah

Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala, yang dengan rahman dan rahim-Nya senantiasa melimpahkan nikmat kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada teladan kemanusiaan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang telah membawa risalah pencerahan bagi alam semesta.

Di hari yang mulia ini, telah tiba bulan suci Ramadhan, marilah kita sejenak menundukkan hati. Bukan sekadar menjalankan rutinitas ritual semata, melainkan untuk menggali kembali hakikat ketakwaan yang menjadi tujuan utama ibadah kita. Ketakwaan yang dalam pandangan Al-Qur’an bukan hanya kesalehan ritual saja, melainkan kesalehan yang memancar dalam perilaku sosial dan kesadaran spiritual.

Jamaah jum’ah yang dirahmati Allah,

Dalam mengisi bulan suci Ramadan, setidaknya ada tiga poin penting yang perlu kita sadari, agar puasa kita tidak sekadar menjadi ritual menahan lapar dan haus saja. Pertama, Ramadan sebagai madrasah integritas kejujuran batin. Ibadah ini melatih kita untuk jujur pada diri sendiri. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Mengapa Allah mengistimewakan puasa sebagai ibadah “milik-Ku”? Karena puasa adalah ujian kejujuran yang paling murni. Seseorang bisa saja berpura-pura lemas di depan publik, namun di ruang tertutup yang tak terjamah mata manusia, ia memiliki peluang penuh untuk membatalkan puasanya. Namun, ia memilih untuk tetap teguh menahan lapar dan dahaga. Mengapa? Karena di dalam dadanya telah tumbuh kesadaran ketuhanan (God-consciousness) yang luar biasa. Inilah yang disebut sebagai esensi ihsan—sebuah kondisi spiritual di mana kita beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, atau setidaknya sadar sepenuhnya bahwa Allah selalu mengawasi kita.

Jika kejujuran batin ini berhasil kita rawat dan kita bawa keluar dari bulan suci, maka ia akan menjelma menjadi energi sosial yang dahsyat. Individu yang lulus dari madrasah integritas ini akan menjadi pribadi yang jujur, amanah, selalu istiqomah dalam kebaikan dan jika ia menjadi seorang pejabat tidak menyalahgunakan kewenangan yang dimilikinya.

Kedua, puasa untuk mengasah kepekaan sosial dan kemanusiaan. Puasa adalah momentum untuk menghancurkan egoisme pribadi. Islam mengajarkan bahwa kesalehan sejati harus berdampak bagi sesama. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam QS. Al-Ma’un (107: 1-3):

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ . فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ . وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin..”

Dari ayat ini mengajarkan kepada kita, bahwa lapar yang kita rasakan saat puasa harus melahirkan empati dan kepekaan naluri sosial (sense of crisis). Ramadan bukan saatnya untuk pamer kemewahan melalui acara buka puasa yang berlebihan, melainkan saatnya membumikan nilai kemanusiaan dengan cara berbagi, bersedekah dan merasakan penderitaan mereka yang kurang beruntung.

Ayat ini juga memberikan peringatan keras bagi kita, bahwa seseorang bisa saja dianggap “mendustakan agama” meski ia rajin shalat dan berpuasa, jika hatinya tumpul terhadap penderitaan sesama. Bahwa rasa lapar yang kita rasakan di siang hari bulan Ramadan bukanlah sekadar ujian biologis. Akan tetapi rasa lapar itu adalah latihan teologis untuk membangkitkan empati.

Tanpa empati, puasa kita hanyalah perpindahan waktu makan. Namun dengan empati, rasa lapar itu menjadi jembatan rasa yang menghubungkan kita dengan mereka yang lapar bukan karena beribadah, melainkan karena kemiskinan.

Jamaah jum’ah yang dimuliakan Allah,

Poin ketiga yang menjadi esensi dari menyongsong Ramadhan adalah momentum untuk kembali kepada fitrah yang hanif. Ramadhan bertujuan mengembalikan manusia pada fitrahnya. Fitrah manusia adalah cenderung pada kebenaran dan kedamaian (hanif). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan bahwa puasa bukan sekadar urusan perut, melainkan transformasi akhlak. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori, nabi bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh terhadap tindakannya meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Imam Bukhori).

Hadits ini mengingatkan kita, bahwa setiap manusia lahir dengan fitrah—sebuah kecenderungan alami untuk mencari kebenaran, mencintai kebaikan, dan merindukan kedamaian. Namun, interaksi kita dengan dunia yang penuh persaingan, ambisi, dan konflik seringkali menumpuk debu pada cermin nurani kita, sehingga kita kehilangan jati diri kita yang asli.

Ramadan hadir sebagai proses “pembersihan besar-besaran” agar kita kembali menjadi manusia yang lurus (hanif). Rasulullah memberikan peringatan keras bahwa keberhasilan puasa sama sekali tidak diukur dari ketahanan fisik, melainkan dari kedalaman transformasi akhlak, yakni kesadaran spiritual dan kepekaan naluri sosial.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Sebagai penutup, mari mebulan suci Ramadan dengan kelapangan hati, saling memaafkan antar sesama manusia dan memohon ampunan yang tulus kepada Allah subhanahu wata’ala. Kita jadikan Ramadan tahun ini sebagai tonggak transformasi akhlak menuju Islam yang ramah, dan penuh kasih sayang.

Semoga kita senantiasa dalam keadaan sehat, diberi panjang umur dan barokah serta diberikan kekuatan kepada kita untuk mengisi setiap detiknya dengan ibadah. Sehingga kita semua termasuk golongan yang mendapatkan derajat takwa yang sesungguhnya. Aamin aamin yaa robbal ‘aalamin..

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

*Ustadz Ali Sodikin M.Pd.I., Dosen Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik

Leave a comment