BUNGAH | NUGres – Rangkaian panjang pengajian rutin Lailatul Kopdar yang diselenggarakan oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Bungah akhirnya mencapai puncaknya. Memasuki pertemuan ke-16 sekaligus penutupan untuk momen Ramadan 1447 Hijriah pada Ahad 8 Maret 2026. Acara ini berlangsung khidmat dengan agenda utama khataman kitab dan Al-Qur’an di Aula KH. Hasyim Asy’ari Gedung MWCNU Bungah.
Jamaah hadir memadati aula. Dalam acara pungkasan ini hadir jajaran Mustasyar, Rais Syuriyah MWCNU Bungah KH Ir. Muhammad Hamdan, Ketua Tanfidziyah MWCNU Bungah KH Ala’uddin, serta perwakilan badan otonom NU di wilayah Kecamatan Bungah. Diantaranya dari Muslimat NU Fatayat NU, GP Ansor, ISNU, serta IPNU dan IPPNU.
Dalam kesempatan tersebut, mengusung kaidah terakhir, “Ulama sebagai Pemegang Amanah Allah”, Gus H. Hasan Mahfudz yang bertugas membadali (menggantikan) pembacaan kitab, mengupas bab penutup dari manuskrip peninggalan Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari dalam kitab Al-Misku al-Faih karya Gus Nanal.
Mengutip dawuh Mbah Hasyim, Gus Mahfudz menjelaskan bahwa ulama adalah sosok yang dipercaya Allah untuk menjaga hamba-hamba-Nya. Ulama memikul tanggung jawab besar di pundaknya untuk menenangkan umat awam dan mengeluarkannya dari gelapnya kesesatan menuju cahaya hidayah.
“Mbah Hasyim berpesan agar para pemilik ilmu jangan ragu dalam memberikan petunjuk. Tugas ulama bukan hanya soal ilmu agama, tapi mencakup seluruh ilmu pengetahuan yang bermanfaat untuk mengentaskan kebodohan,” papar Gus Mahfudz di hadapan jamaah.
Ketua Aswaja Center MWCNU Bungah itu juga menambahkan pentingnya sifat khasyah, yakni rasa takut yang didasari cinta, bagi seorang ulama agar selalu merasa dekat dengan Allah SWT.
Momen menarik terjadi saat Gus Mahfudz mengisahkan humor sekaligus filosofi dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengenai empat kategori kiai, antara lain;
- Kiai Tandur: Kiai yang fokus menetap di pesantren mendidik santri.
- Kiai Tutur: Kiai yang aktif berdakwah sebagai mubaligh di tengah masyarakat.
- Kiai Sembur: Kiai yang memberikan pelayanan pengobatan atau doa (suwuk) bagi masyarakat.
- Kiai Catur: Kiai yang berperan dalam wilayah kebijakan dan politik demi kemaslahatan.
“Di Nahdlatul Ulama, keempat jenis kiai ini semuanya dibutuhkan dan saling melengkapi. Kita beruntung di NU semua model kiai itu ada,” imbuhnya.

Pemaparan Gus Mahfudz itu dapat secara lebih lengkap disimak dalam arsip live streaming Youtube MWCNU Bungah. Banyak hal menarik yang perlu dikaji dan dijadikan pelajaran untuk mensikapi persoalan organisasi, kehidupan bermasyarakat, dan Ber-NU.
Setelah memaparkan materi terakhir kitab Al-Misku Al-Faih, kegiatan dilanjutkan dengan khataman Qur’an, doa khatmil Qur’an erta doa khatam kitab, dengan tertib dipimpin oleh KH Ir. Abdul Qodir dan KH Ir. Muhammad Hamdan.
Sebagai bentuk apresiasi bagi jamaah yang setia mengikuti pengajian, panitia menutup acara dengan pembagian berbagai doorprize, mulai dari kipas angin hingga hadiah menarik lainnya sebagai simbol kebersamaan kader NU di wilayah Bungah.
Dengan khatamnya kitab ini, diharapkan semangat literasi dan pemikiran Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dapat terus menjadi napas perjuangan bagi pengurus dan kader NU di tingkat ranting maupun anak cabang.
Penulis: Maghfur Munif
Editor: Chidir Amirullah

