Lailatul Kopdar Ramadan 1447 H di MWCNU Bungah Gresik: KH. Ahmad Hadziq Tekankan Pentingnya Menyikapi Perbedaan dengan Kelembutan

Redaksi NUGres Redaksi NUGres
Pertemuan ke-15 Lailatul Kopdar Ramadan 1447 Hijriah di MWCNU Bungah, pada Sabtu (7/3/2026), KH. Ahmad Hadziq Tekankan Pentingnya Menyikapi Perbedaan dengan Kelembutan. Foto: dok LTN MWCNU Bungah/NUGres

BUNGAH | NUGres – Lailatul Kopdar Ramadan 1447 Hijriah kembali digelar pada Sabtu (7/3/2026) di Aula KH. Hasyim Asy’ari, Gedung Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Bungah. Kajian kitab pada kesempatan itu dibacakan oleh KH Ahmad Hadziq dengan suasana yang khidmat dan penuh penghayatan.

Kegiatan diawali dengan pembacaan Surah Al-Fatihah yang ditujukan kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, dengan harapan para peserta Lailatul Kopdar memperoleh keberkahan ilmu dari sang pendiri Nahdlatul Ulama tersebut.

Dalam kajian kali ini, KH Ahmad Hadziq membahas dua tema penting dari kitab, yaitu [إرشاد الناس بلطف] (membimbing manusia dengan kelembutan) serta [من مصائب الدهر] (di antara musibah zaman). Melalui dua pembahasan tersebut, Kiai Hadziq menekankan pentingnya sikap bijak dan lembut dalam menyikapi perbedaan di tengah umat.

Mengacu pada pembahasan [إرشاد الناس بلطف], Kiai Hadziq menjelaskan bahwa ketika melihat seseorang mengamalkan suatu ibadah berdasarkan pendapat ulama mu’tabarah, maka tidak sepatutnya kita mencelanya. Ulama mu’tabarah, dijelaskan Kiai Hadziq, yaitu para imam mazhab yang diakui otoritas keilmuannya. Dalam tradisi Islam, terdapat empat mazhab fikih yang umum diikuti, yakni mazhab Abu Hanifa, Malik ibn Anas, Muhammad ibn Idris al-Shafi’i, dan Ahmad ibn Hanbal.

Kiai Hadziq menegaskan bahwa perbedaan pendapat dalam masalah keagamaan tidak seharusnya menjadi sebab perpecahan di tengah umat. Menurutnya, selama suatu amalan didasarkan pada pendapat ulama yang mu’tabar, maka tidak pantas untuk saling mencela atau merendahkan. Karena itu, ia mengingatkan agar perbedaan disikapi dengan bijak dan penuh kelembutan, sebagaimana prinsip membimbing manusia dengan cara yang baik. “Perbedaan itu adalah rahmat,” tuturnya.

Lebih lanjut, dalam pembahasan [من مصائب الدهر], Kiai Hadziq mengingatkan bahwa salah satu musibah zaman adalah munculnya sekelompok orang yang mengaku sebagai umat Islam bahkan menganggap dirinya sebagai pemimpin Islam, tetapi tidak tunduk kepada perintah Allah dan tidak menjauhi larangan-Nya. Mereka jarang bersujud di masjid dan lalai dalam menjalankan kewajiban agama.

Lebih lanjut, Kiai Hadziq juga mengingatkan bahwa pertengkaran dan perselisihan termasuk dosa besar yang dapat meruntuhkan bangunan umat. Hal tersebut bahkan telah diperingatkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Anfal ayat 46: “Dan janganlah kalian berselisih, karena kalian akan menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian.”

Kegiatan ini juga diikuti oleh berbagai unsur badan otonom Nahdlatul Ulama di wilayah Kecamatan Bungah, Gresik. Dari jajaran IPNU dan IPPNU hadir PR (Pimpinan Ranting) Grogol, PR Pegundan, PR Masangan, serta PAC (Pimpinan Anak Cabang) Bungah yang diwakili oleh Lembaga Corps Brigade Pembangunan dan Korp Pelajar Putri (CBP KPP). Dan turut hadir dari PR GP Ansor Bungah dan PR Fatayat NU Bungah.

Melalui kajian ini, KH. Ahmad Hadziq yang merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah Bungah itu mengajak seluruh jamaah untuk menjaga persatuan umat dengan mengedepankan sikap bijak dalam menyikapi perbedaan. Perbedaan hendaknya dijadikan ruang untuk saling belajar dan memperkaya khazanah keilmuan, bukan sebagai alasan untuk saling menyalahkan apalagi bermusuhan.

Penulis : Amelia Rahmawati & Siti Sarah
Editor: Maghfur Munif

Leave a comment