Melihat Semarak Musabaqah Tahlil di Harlah ke-44 SMP Ma’arif Miftahul Ulum Melirang Gresik

Redaksi NUGres Redaksi NUGres
Para juara putra dan putri Musabaqah Tahlil di SMP Ma’arif Miftahul Ulum Melirang Bungah Gresik menyambut Harlah ke-44 lembaga tersebut. Foto: Mubarok/NUGres

BUNGAH | NUGres — Pagi itu, Kamis Pahing 30 April 2025 bertepatan 12 Dzulqa’dah 1447, suasana di musala SMP Ma’arif Miftahul Ulum (Spemtalum), Desa Melirang, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, terasa berbeda.

Sejak pukul 07.00 WIB, lantunan kalimat thayyibah mulai menggema, mengalun lembut namun penuh makna, menembus relung hati siapa saja yang hadir. Bukan sekadar perlombaan, Musabaqah Tahlil tingkat pelajar Spemtalum, ini menjelma menjadi ruang spiritual yang sarat haru, menyatukan doa, tradisi, dan cinta kepada amaliyah Ahlussunnah wal Jama’ah.

Dalam rangka memperingati Harlah ke-44 SMP Ma’arif Miftahul Ulum yang akan jatuh pada 2 Mei 2026, kegiatan ini mengusung tema besar “Menguatkan Ukhuwwah, Melestarikan Amaliyah Ahlussunnah wal Jama’ah.” Sebuah tema yang tidak hanya indah diucapkan, tetapi benar-benar dihidupkan dalam setiap lantunan tahlil yang dibacakan para peserta.

Para siswa dan siswi tampil bukan hanya membawa nama kelas, tetapi juga membawa semangat menjaga tradisi leluhur yang penuh keberkahan. Dengan penuh kesungguhan, mereka melafalkan dzikir demi dzikir, menghadirkan suasana yang begitu sakral dan menyentuh.

Lomba ini menghadirkan dua sosok juri yang kompeten di bidangnya, yakni Ustadz Moh. Mahfud dan Ustadz H. Achmad Halimi, M.Pd.I. Penilaian dilakukan secara menyeluruh, mencakup kefasihan bacaan, ketepatan tartil, adab dalam bertahlil, hingga kekompakan antar peserta.

Namun lebih dari sekadar penilaian teknis, yang terasa kuat adalah ruh kebersamaan dan kekhusyukan yang jarang ditemui dalam lomba tingkat sekolah pada umumnya.

Setiap kelompok tampil dengan karakter dan kekuatan masing-masing. Ada yang menonjol dalam kekompakan suara, ada pula yang begitu menyentuh dalam penghayatan doa. Musala seakan menjadi saksi bisu bagaimana generasi muda ini tidak hanya belajar, tetapi juga merasakan makna dari setiap kalimat dzikir yang dilantunkan.

Antusiasme peserta begitu luar biasa. Tak terlihat ketegangan berlebihan, yang ada justru semangat kebersamaan dan rasa saling mendukung. Sorak-sorai tidak hadir dalam bentuk riuh, melainkan dalam doa-doa lirih dan harapan yang dipanjatkan dalam hati.

Adapun hasil perlombaan menunjukkan persaingan yang sehat dan penuh sportivitas:

Kategori Putra:
Juara 1: Kelas VIII-A
Juara 2: Kelas IX
Juara 3: Kelas VII-B

Kategori Putri:
Juara 1: Kelas IX
Juara 2: Kelas VIII-B
Juara 3: Kelas VII-A

Kepala SMP Ma’arif Miftahul Ulum Melirang, Moh. Arif Romadloni, S.Pd.I, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Musabaqah Tahlil ini bukan sekadar kegiatan seremonial dalam rangka harlah, melainkan bagian dari ikhtiar nyata sekolah dalam membentuk karakter siswa.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan nilai-nilai religius kepada siswa, membentuk pribadi yang berakhlak mulia, serta menumbuhkan kecintaan terhadap amaliyah Ahlussunnah wal Jama’ah. Harapannya, mereka tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam iman dan takwa,” tuturnya dengan penuh harap.

Lebih dari itu, Musabaqah Tahlil ini menjadi cermin bahwa pendidikan tidak hanya soal angka dan prestasi akademik. Di balik lantunan tahlil, tersimpan proses pembentukan jiwa tentang kesabaran, kekhusyukan, kebersamaan, dan ketulusan dalam beribadah.

Di usia ke-44 ini, SMP Ma’arif Miftahul Ulum Melirang tidak hanya merayakan perjalanan panjangnya, tetapi juga menegaskan jati dirinya sebagai lembaga pendidikan yang teguh menjaga tradisi, merawat nilai-nilai keislaman, dan membangun generasi yang tidak tercerabut dari akar spiritualnya.

Dan ketika lantunan tahlil itu perlahan mereda, yang tertinggal bukan hanya gema suara, melainkan rasa haru, bangga, dan keyakinan bahwa tradisi ini akan terus hidup, mengalir dari generasi ke generasi, menguatkan ukhuwwah, dan menjaga cahaya Ahlussunnah wal Jama’ah tetap menyala.

Penulis: Ahmad Mubarok
Editor: Chidir Amirullah

Leave a comment