GRESIK | NUGres – Anggota Lembaga Ta’lif wan Nasyr Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTN PBNU) masa khidmat 2022 – 2027, Fajar Wahyu Hermawan, membagi gagasan dan pengalaman kepada pengurus LTN se-Jawa Timur pada seminar yang digelar dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) oleh Pengurus Wilayah LTNNU Jawa Timur.
Fajar WH, demikian jurnalis senior itu lebih akrab dikenal, menekankan bila para pengurus NU harus dibekali kesadaran literasi yang musti dibangkitkan secara terus menerus, utamanya dalam menghadapi tantangan kemajuan teknologi mutakhir.
“Kita punya tradisi tulis. Kita punya tradisi literasi yang kuat sebetulnya, tapi kalau ini kita terlena—maka lambat laun akan tergerus juga. Apalagi, sekarang ada teknologi artificial intellegence (AI). Yang itu saya kira tantangan baru, kalau kita tidak bisa bersikap kritis,” ujarnya.
Lebih lanjut, Fajar WH berpesan bahwa sikap hati-hati dan mesti banyak belajar menjadi keniscayaan yang tidak bisa dinafikan, khususnya pengurus LTNNU yang mendapat amanah berkhidmat sebagai penyebar informasi kepada warga nahdliyin.
Mempresentasikan materi secara virtual melalui zoom, sosok berlatar belakang sebagai jurnalis media mainstream itu juga memberikan wawasan kepada utusan PC LTNNU di Jawa Timur tentang prinsip jurnalistik.
Dikatakannya, salah satu prinsip yang dipegang oleh jurnalis yaitu melakukan verifikasi lapangan untuk mengecek kebenaran melalui fakta-fakta dari sebuah informasi.
“Harus kita cek benar-benar. Sehingga informasi yang kita sebarkan itu adalah informasi akhir yang valid. Yang sudah melalui verifikasi,” tukasnya.
Kendati kini kehadiran AI bisa merespons pelbagai layanan seperti membuat tulisan apa saja yang diperintahkan oleh penggunanya, akan tetapi, menurut Fajar WH bahwa AI masih memiliki celah yang bisa meragukan sendiri produk yang dirilisnya.
Hal itu terungkap saat dirinya pernah melakukan uji coba bersama pengurus di PBNU yang mencoba mencecar dan membantah, pada akhirnya AI dapat kewalahan jika informasinya dibantah.
Lebih jauh, terhadap perkembangan pemanfaatan media digital yang semakin banyak dikembangkan oleh pengurus Nahdlatul Ulama mulai dari pusat hingga tingkatan ranting, Fajar WH berpesan agar senantiasa menyadari eksistensi sebagai pewarta.
“Bagaimana kita harus check and re-check di lapangan,” pesan sosok tenaga ahli yang kini membantu Menteri Sosial RI, KH Saifullah Yusuf ini.
Di penghujung pemaparan yang cukup singkat namun penuh dengan pesan penting itu, Fajar WH berbagi tentang gaya peliputan deep reporting. Ia sangat yakin bahwa deep reporting ini tidak dapat tergantikan oleh AI.
Ia juga berbagi pengalaman sekaligus contoh deep reporting, tentang suatu ketika ditugaskan di lapangan untuk mengerahkan ketajaman seluruh indera ketika berada di lapangan untuk membuat laporan deskriptif.
“Ketika kita liputan sampah, bagaimana kita menggunakan indera penciuman kita. Bagaimana pendengaran kita. Saya kira tidak bisa dilakukan oleh AI,” tandasnya.
Memungkasi pemaparan, Fajar WH mengajak para peserta seminar untuk terus merawat dan mengasah kreativitas serta intiusi dalam kegiatan jurnalistik yang dilakoni.
“Sehingga akan sia-sia kita disebut bekerja di dunia media, kalau kita tidak bisa mengasah ketajaman semua panca indera kita,” pungkas anggota LTN PBNU tersebut pada forum seminar PW LTNNU Jatim bertemakan “Merajut Literasi, Menguatkan Digitalisasi” di Aula KH Bisri Syansuri, Sabtu 10 Mei 2025.
Editor: Chidir Amirullah

