Asmaul Fauziyah, Guru Inspiratif Pegiat Literasi dari Cerme Gresik

Redaksi NUGres Redaksi NUGres
Asmaul Fauziyah, guru inspiratif pegiat literasi dari Cerme Gresik. Foto: ist/NUGres

CERME | NUGres – Di sebuah madrasah sederhana di Desa Dampaan, Cerme, Gresik, hadir sosok pendidik inspiratif bernama Asmaul Fauziyah, S.Pd., guru MI As Shibyan. Ia merupakan warga nahdliyin yang mendedikasikan diri bagi dunia pendidikan dengan ketulusan dan kerja-kerja penuh cinta.

Perjalanan panjangnya tidak lahir dalam sehari. Kiprah dan prestasinya tumbuh dari kerja keras, doa, dan kepedulian yang mendalam terhadap anak-anak didiknya.

Sejak 2021, Asmaul Fauziyah mulai bergulat dengan dunia literasi dan menghasilkan karya yang memberi makna luas bagi pendidikan. Pada tahun tersebut, ia menerbitkan dua buku, ‘Menggapai Bintang’, buku motivasi yang mengajak siswa berani bermimpi, serta ‘Bermain untuk Belajar’, buku yang memadukan aktivitas bermain dan pembelajaran kreatif agar kelas terasa lebih hidup.

Kedua karya ini menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya penyampaian ilmu, tetapi juga upaya menanamkan harapan dan kebahagiaan dalam proses belajar.

Tahun 2023 menjadi tonggak penting dalam perjalanan literasinya. Di tengah kesibukan mengajar, lahirlah antologi puisi Sehimpun Puisi dari Hati, sebuah refleksi personal tentang kehidupan, pendidikan, dan spiritualitas seorang guru.

Pada tahun yang sama, ia meraih penghargaan Guru Berprestasi Tingkat Nasional kategori Guru Inspiratif, sebuah apresiasi yang mengakui kontribusinya bagi pendidikan Indonesia.

Dedikasinya terus berlanjut pada 2024. Ia ikut mengabadikan sejarah perjuangan warga Nahdlatul Ulama di Cerme melalui antologi ‘Kronik Juang MWCNU’. Karya ini menjadi arsip penting bagi generasi penerus, sekaligus wujud kecintaannya pada organisasi dan sejarah perjuangan Nahdliyin.

Memasuki 2025, prestasinya kembali menggaung di tingkat nasional. Ia terpilih sebagai salah satu Penulis Terpilih Nasional untuk kategori cerpen dan puisi, sebuah penghargaan yang menegaskan bahwa karya tulus selalu menemukan pembacanya.

Pada awal tahun yang sama, ia menghadirkan antologi ‘Aksara Cinta Ramadhan’, kumpulan tulisan yang merekam spiritualitas bulan suci dalam untaian kata penuh kehangatan.

Lebih dari sekadar menulis, Asmaul Fauziyah aktif menciptakan media pembelajaran kreatif yang membuat proses belajar lebih menyenangkan. Baginya, kelas bukan hanya ruang mengajar, tetapi tempat menanamkan nilai, karakter, moral, serta cinta pada ilmu.

Dari ruang kelas MI As Shibyan Dampaan—yang mungkin tidak besar namun sarat kehangatan—namanya terus menginspirasi banyak pihak.

Asmaul Fauziyah, S.Pd. bukan hanya guru berprestasi. Ia adalah inspirasi, sekaligus representasi kader nahdliyin yang terus menjaga cahaya pendidikan tetap menyala di Cerme, Gresik, dan Indonesia.

Penulis: Arif Fahrudin Insani
Editor: Chidir Amirullah

Leave a comment