MENGANTI | NUGres – Suara riuh anak-anak terdengar saling bersahutan di Aula MI Unggulan Citra Taman Siswa, Jalan Raya Bringkang, Desa Domas, Kecamatan Menganti, Gresik, Sabtu pagi (24/5/2025).
Ada yang menampilkan banjari secara berkelompok, ada pula yang menari sambil tersenyum malu-malu, dan ada juga yang lantang membaca puisi maupun pantun. Tak hanya itu, Master of Ceremony (MC) yang memandu jalannya kegiatan pagi ini digawangi oleh dua murid perempuan.
Dengan wajah penuh kepolosan dan kejujuran, sejumlah wali murid ikut tersenyum bangga dari barisan paling depan. Melihat putra-putri mereka tampil sangat energik, dan merekam momen itu dengan kamera ponsel.
Seperti itulah suasana dalam kegiatan “Prestasi Beraksi”. Dengan mengusung tema “Menggali Prestasi Melalui Karya Seni dan Literasi”, menjadi jadi wadah bagi murid MI Unggulan Citra Taman Siswa untuk mengekspresikan diri. Acara ini menjadi ajang bagi para siswa Kelas Prestasi. Salah satu dari tiga kelas yang ada di MI Unggulan Citra Taman Siswa, selain Kelas Unggulan dan Mandiri.
Total ada sebanyak 149 siswa dari kelas 1 hingga 6 di kelas prestasi yang ikut serta dalam kegiatan Prestasi Beraksi kali ini. Sejalan dengan tema utama yang diangkat tentang literasi, salah satu kontributor NUGres Media Official PCNU Gresik, Febrian Kisworo Aji, didapuk sebagai Guest Teacher atau fasilitator. Ia berbagi pengalamannya di dunia tulis-menulis. Pemuda yang kini berusia 25 tahun itu juga merupakan jurnalis lokal dan pegiat literasi dari Komunitas Gresik Book Party.
Belajar Menulis Tanpa Paksaan
Alih-alih berdiri di atas panggung untuk menyampaikan presentasi, pemuda yang dikenal dengan nama pena Kisworo ini justru memilih turun dan menyatu bersama para murid. Ia membuka suasana dengan ice breaking yang hangat; melantunkan sholawat “Alhamdulillah wa syukrulillah, azka sholati wa salami lirosulillah…”
Setiap jenjang kelas diajak berpartisipasi secara bergantian. Kelas 1 dan 2 membaca bagian “Alhamdulillah”, kelas 3 dan 4 melanjutkan dengan “wa syukrulillah”, sementara kelas 5 dan 6 menutup dengan “azka sholati wa salami lirosulillah.” Interaksi ini seketika mencairkan suasana dan menarik perhatian seluruh murid.
Setelah itu, ia mulai dengan sebuah pertanyaan sederhana yang langsung membuat aula tertawa “Kalian pernah bayangin sekolah berdiri di atas bulan?”.
Dari situ, suasana pun mencair. Anak-anak diminta membayangkan dan bercerita. Kisworo mengajak mereka melihat bahwa menulis bukanlah aktivitas yang berat, melainkan cara seru untuk menuangkan isi imajinasi dalam kepala. Lalu, ia memperkenalkan cerpen sebagai kisah pendek yang bisa dimulai dari keseharian: bangun tidur, berangkat sekolah, sampai main dan ngaji sore.
Yang paling menarik, Kisworo menunjukkan sebuah benda kecil dari dalam tasnya yang sudah tampak lusuh dan rusak. Yakni, buku catatan diary miliknya semasa SD, 15 tahun silam. Ia membacakan salah satu catatan lamanya itu, “Hari ini aku senang sekali karena ulangan IPS-ku dapat 9, hore!!”. Melalui tulisan itu, ia berikhtiar untuk menumbuhkan kesadaran murid bahwa tulisan bisa menjadi tempat menyimpan perasaan dan pengalaman yang berharga.
Simulasi Jadi Wartawan Cilik
Tak berhenti di sana, Kisworo juga mengajak para murid untuk bersimulasi menjadi wartawan. Tiga nama dipanggil maju ke depan. Ia menjelaskan 5W 1H, rumus dasar jurnalistik dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Lalu, satu per satu dari mereka juga diajak membedakan mana yang fakta dan mana yang hanya imajinasi.

Kejutan Dongeng yang Menghipnotis Seluruh Peserta
Menjelang siang, aula kembali hening saat Kisoworo memanggil sahabatnya, Fajar Fitro Sampoerno. Ia adalah salah pendongeng atau pengkisah asal Menganti, Gresik yang dikenal piawai dalam membawakan kisah-kisah Islami dengan gaya atraktif.
Kehadiran Kak Fitro semacam kejutan kecil, pasalnya ia sebetulnya hadir bukan untuk mengisi materi. Hanya menemani dan menerima ajakan Kisworo. Sebab, Kisworo tahu, dan sadar diri ia belum lihai bercerita di depan anak-anak se-usia MI. Maka giliran Kak Fitro yang ambil alih.
Begitu naik panggung, Kak Fitro langsung mencairkan suasana. Suaranya berubah-ubah, kadang seperti anak kecil, kadang berat seperti orang tua. Mimiknya ekspresif, tubuhnya pun tak diam saja, dan ceritanya menggugah. Seluruh murid, bahkan wali murid seakan-akan nampak terhipnotis dengan gaya penyampaiannya.
Ia membawakan kisah Abdullah bin Abbas—sahabat Rasulullah SAW yang dikenal sebagai “lautan ilmu”. Anak-anak menyimak tanpa bersuara. Bahkan yang biasanya sulit duduk diam, kini terpaku untuk menyimak cerita yang disampaikan. Sesekali humor penuh makna diselipkan dan mampu mengundang gelak tawa yang membuat ramai aula MI Unggulan Citra Taman Siswa itu.
Sekolah yang Mengerti Anak Tak Harus Unggul Akademik
Kepala Sekolah MI Unggulan Citra Taman Siswa, Siswo Yusbido, M.Pd., menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari komitmen sekolah dalam membangun pendidikan yang memanusiakan. Terlebih untuk menggali potensi murid yang tidak bisa disamaratakan.
“Kami ingin menghapus pandangan bahwa hanya anak yang pintar akademik yang dianggap sukses. Semua anak punya kelebihan, cuma beda caranya dan tempatnya,” jelasnya.
Ia melanjutkan, MI Unggulan Citra Taman Siswa sudah berdiri sejak tahun 2012 silam. Nah, dua tahun kebelakang ini pihaknya berinovasi dengan membagi kelas menjadi tiga : Unggulan yang fokus pada akademik dan public speaking, Prestasi yang fokus pada non akademik, dan Mandiri yang fokus pada karakter serta penguatan budaya lokal.
Menurutnya, program ini baru berjalan satu tahun, tapi sudah banyak wali murid yang mulai memahami pendekatan tersebut.
“Setiap anak punya kelebihan masing-masing. Hari ini kita lihat, mereka menunjukkan itu lewat puisi, lagu, dan cerita. Ini luar biasa,” tutur Pak Siswo.

Panggung Ekspresi
Koordinator acara, Denis Aprilian, S.Pd., menyebut kegiatan “Prestasi Beraksi” sebagai ruang bebas yang mendukung tumbuhnya keberanian anak-anak. Terutama menjadi wadah bagi mereka yang punya bakat kecenderungan non akademik.
“Kami berharap, kegiatan ini menjadi wadah untuk menggali potensi anak-anak, bukan hanya dalam akademik, tapi juga seni dan kepribadian,” tandasnya.
Editor: Chidir Amirullah



