Digital Storytelling Menembus Ruang Hampa

Redaksi NUGres Redaksi NUGres

Oleh: Aan Haryono, SE., M.Med.Kom*

KOLOM KALEM | NUGres – Di Gresik, di sebuah warung kopi dekat pabrik, seorang bapak tua menonton televisi yang menayangkan sinetron. Ia mendengus, “Kok gak ono ludruk, to?” Seorang anak muda di sebelahnya justru sibuk memainkan ponsel, tertawa sendiri menonton video TikTok tentang parodi reog Ponorogo yang dibuat dengan filter konyol. Dua dunia, satu ruang. Yang satu merindukan panggung ludruk, yang satu menemukan reog di layar lima inci.

Apakah itu berarti budaya lokal tinggal menunggu ajal? Belum tentu. Justru di sinilah cerita digital bekerja. Seperti jin yang keluar dari lampu, ia bisa membuat reog menari di layar, ludruk tertawa di podcast, dan tembang dolanan hadir di Spotify. Cerita-cerita lama tidak hilang. Ia hanya pindah alamat, dari panggung ke layar.

Digital storytelling adalah cara baru bercerita. Tapi mari kita jujur, sejak kapan manusia tidak bercerita? Nenek moyang kita sudah lama bercerita di tepi sawah, di serambi masjid, di atas panggung rakyat. Bedanya, kini ceritanya menyeberang lewat sinyal internet. Bukan hanya dari mulut ke telinga, tapi dari klik ke layar.

Bayangkan, seorang bocah Madura merekam ibunya membatik sambil bercerita tentang makna motif. Video itu diunggah ke Instagram, lalu ditonton ratusan ribu orang di seluruh dunia. Tiba-tiba, batik yang dulu dianggap kuno menjadi bahan perbincangan. Atau seorang pemuda Banyuwangi yang membuat vlog tentang petik laut, lengkap dengan musik etnik dan drone shot pantai. Budaya lokal, yang biasanya hanya dinikmati warga sekitar, kini menyeberang benua.

Tantangannya, para pelaku budaya sering gagap teknologi, sementara para kreator muda mahir teknologi tapi miskin pemahaman budaya. Di sinilah pentingnya konsep participatory culture dari Henry Jenkins yang membeberkan budaya yang sehat lahir dari partisipasi, bukan hanya konsumsi. Lembaga penyiaran, pemerintah daerah, kampus, dan komunitas kreator bisa mempertemukan dua pihak ini. Seniman ludruk dan pembatik Madura belajar membuat konten digital, sementara anak muda belajar makna budaya yang mereka kemas.

Namun cerita digital tidak akan berarti jika tidak ada yang menyiarkannya. Di sinilah lembaga penyiaran seharusnya tidak hanya duduk sebagai penyampai berita, tetapi juga sebagai kurator kebudayaan. Televisi lokal bisa menayangkan program dokumenter pendek hasil kolaborasi dengan komunitas kreator muda. Radio daerah bisa menghadirkan segmen “cerita rakyat lima menit” yang diambil dari konten digital. LPPL (Lembaga Penyiaran Publik Lokal) bahkan bisa menjadi “museum digital” yang menayangkan arsip budaya, dari ludruk klasik hingga rekaman gamelan tua.

Bukankah penyiaran dulunya juga cerita. Ya, dulu kita menempelkan telinga ke radio untuk mendengar sandiwara bersambung. Kini, kita menempelkan mata ke layar ponsel untuk menonton konten singkat. Perbedaannya hanya medium, bukan kebutuhan. Lembaga penyiaran bisa menjembatani, kembali mengangkat karya digital anak muda agar mendapat panggung lebih luas, sekaligus menjaga kualitas agar budaya tidak direduksi jadi sekadar gimmick.

Ada yang khawatir, jika budaya masuk ke ruang digital, ia akan kehilangan kesakralannya. Ritual berubah jadi tontonan, kesenian jadi hiburan instan. Kekhawatiran itu sah, tapi jangan lupa kalau budaya selalu berubah. Reog dulunya bagian ritual, kini jadi festival. Ludruk dulunya sindiran sosial, kini jadi pertunjukan wisata. Tidak ada budaya yang beku. Yang penting bukan menjaga bentuknya tetap sama, melainkan menjaga maknanya tetap hidup. Teori media ecology dari Neil Postman membantu kita memahami ini, yakni setiap medium mengubah cara kita berinteraksi dengan pesan.

Digital storytelling justru bisa menambahkan lapisan baru. Ketika reog ditampilkan di YouTube, misalnya, kita bisa menambahkan narasi visual tentang filosofi topeng singo barong. Ketika tembang Jawa masuk Spotify, kita bisa menyisipkan kisah tentang nilai-nilai di balik liriknya. Teknologi bukan musuh, ia hanya alat. Yang berbahaya adalah ketika kita berhenti bercerita.

Mari kita lihat Jawa Timur. Betapa kaya cerita yang bisa dijadikan digital storytelling. Ludruk Surabaya dengan Cak Durasim-nya. Reog Ponorogo dengan magisnya. Karapan sapi Madura dengan riuhnya. Wayang Krucil dari Bojonegoro. Ritual Kasada di Tengger. Petik laut di Trenggalek. Tembang dolanan anak dari Madiun. Semua bisa dikemas dalam bentuk baru berupa film pendek, komik digital, podcast, animasi, bahkan game.

Tugas kita bukan hanya melestarikan, tetapi juga menghidupkan kembali. Generasi muda tidak akan mau menonton pertunjukan tiga jam tanpa jeda, tapi mereka mau menonton konten tiga menit yang cerdas, jenaka, dan menyentuh. Kita tidak sedang mengurangi nilai budaya, tapi kita sedang membuka pintu masuk baru.

Di era Society 5.0, di mana teknologi menyatu dengan kehidupan, budaya lokal bisa menjadi sumber inspirasi tak terbatas. Anak muda Surabaya bisa membuat konten TikTok tentang bahasa Suroboyoan yang kocak, lalu viral. Lembaga penyiaran bisa mengangkatnya jadi program televisi, lalu menjadi bahan riset bahasa di kampus. Inilah ekosistem. Melalui budaya, teknologi, media, pendidikan dan semuanya saling terkait.

Bayangkan jika KPID Jawa Timur, lembaga penyiaran publik lokal, kampus, dan komunitas kreator bergandeng tangan. Ada festival konten budaya setiap tahun. Ada platform digital berisi cerita budaya Jawa Timur. Ada ruang di televisi dan radio yang khusus memutar karya anak muda. Budaya tidak hanya hidup di panggung, tapi juga di timeline.

Seorang kawan minum kopi di pinggir emperan trotoar pernah berkata: “Budaya itu bukan barang antik. Ia napas.” Maka kalau kita berhenti bernapas, kita mati. Begitu juga budaya. Jika kita berhenti bercerita, budaya pun pelan-pelan hilang. Untunglah, manusia tidak pernah berhenti bercerita. Yang berubah hanya cara. Dari dongeng lisan ke panggung rakyat, dari radio ke televisi, dari layar lebar ke layar ponsel.

Dan mungkin, suatu hari nanti, seorang anak kecil di pelosok Jawa Timur akan menonton konten digital tentang reog Ponorogo, lalu berkata: “Aku bangga, itu budaya kita.” Kalau sudah begitu, bukankah digital storytelling sudah menemukan makna terdalamnya? Ah, panjang umur kehidupan!

*Aan Haryono, SE., M.Med.Kom, Komisioner KPID Jatim 

Leave a comment