GRESIK | NUGres – Pasar Segoro, sebuah event wisata budaya dan ekonomi kreatif di kawasan pesisir utara Gresik, akan kembali digelar pada Sabtu, 2 Agustus 2025.
Event kreatif yang digagas oleh komunitas pemuda Desa Campurejo, Kecamatan Panceng, ini kembali hadir setelah sukses mencuri perhatian warga pada peluncuran perdananya akhir Juni lalu.
Fatikin, perwakilan dari komunitas Ngayom Jagad selaku penggagas acara, mengungkapkan bahwa antusiasme warga menjadi alasan utama digelarnya kembali Pasar Segoro.
“Setelah kami launching kemarin dan disambut antusias warga, kami jadwalkan kembali pelaksanaannya awal Agustus mendatang,” ujarnya, Sabtu (26/7/2025).
Dalam penyelenggaraannya, jumlah UMKM mengalami peningkatan signifikan. Jika sebelumnya hanya diikuti 26 stan, pada event Agustus nanti jumlahnya bertambah menjadi 43 stand yang menyajikan beragam kuliner khas masyarakat pesisir Gresik.
“Salah satu keunikan yang menjadi daya tarik utama Pasar Segoro adalah sistem transaksinya yang tidak menggunakan uang tunai, melainkan menggunakan kulit kerang sebagai alat tukar,” imbuhnya.
Sensasi berbelanja menggunakan kulit kerang yang unik seperti tempo dulu, tetapi juga merepresentasikan identitas lokal Desa Campurejo yang masyarakatnya mayoritas bekerja sebagai nelayan inilah yang menjadi daya tarik tersendiri.
Pasar Segoro merupakan bagian dari upaya kreatif untuk membangkitkan ekonomi lokal berbasis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), sekaligus melestarikan budaya pesisir.
Event Pasar Segoro yang juga mendapat dukungan dari Pemerintah Desa Campurejo ini diharapkan menjadi ruang ekspresi budaya dan destinasi wisata unggulan baru di Kabupaten Gresik.
Dengan konsepnya yang inovatif dan kolaboratif, Pasar Segoro menjadi contoh nyata sinergi antara pemuda, masyarakat, dan pemerintah desa dalam mengembangkan potensi lokal, memperkuat kearifan budaya, dan meningkatkan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
“Pasar Segoro memang sebelumya dikonsep berkelanjutan, yakni dilaksanakan sebulan sekali. Ini sebagai upaya kami turut melestarikan budaya,” pungkasnya.
Editor: Chidir Amirullah

