GRESIK | NUGres – Semangat khidmah dan rasa ingin tahu yang tinggi menyelimuti rombongan kader Fatayat NU Ranting Cerme Kidul saat melakukan rihlah religi dan penelusuran sejarah ke Situs Giri Kedaton, Kebomas, Gresik, pada Ahad (18/1/2026).
Kunjungan ini menjadi momentum spesial sekaligus penuh haru, sebab bagi sebagian besar kader, ini merupakan pengalaman pertama mereka menginjakkan kaki di situs yang menjadi bukti kejayaan dakwah serta pusat pemerintahan Sunan Giri di masa lampau.
Perjalanan yang dimulai sejak pagi hari tersebut menuntut fisik yang prima. Setibanya di lokasi, para sahabat Fatayat NU harus menapak anak tangga untuk mencapai puncak bukit tempat situs keramat tersebut berada.
Meski cukup menguras tenaga, rasa lelah itu seketika sirna saat mereka disuguhi panorama Kota Gresik dari ketinggian serta suasana spiritual yang begitu kental di area bekas keraton yang memiliki struktur bangunan berundak tersebut.
“Ini pengalaman pertama saya ke sini, padahal saya orang Gresik. Ternyata luar biasa, saya bisa melihat Gresik dari titik tertinggi, pemandangan indah,” ungkap Noor Aini, salah satu kader Fatayat NU Ranting Cerme Kidul dengan nada kagum.

Tak hanya mengamati lokasi bersejarah dari jarak dekat, pemaparan Umi Khoirotun Nisak S.Pd., yang memimpin kegiatan, memberikan nilai edukasi bagi para peserta. Ia menjelaskan, wilayah Cerme Kidul dan Cerme Lor di masa silam merupakan kawasan strategis yang menjadi jalur perlintasan sekaligus pertahanan penting Kerajaan Giri Kedaton.
Pembina Pimpinan Ranting Fatayat NU Cerme Kidul itu bilang, kalau fakta sejarah lokal yang jarang diketahui publik mengenai keberadaan makam-makam kuno di Desa Cerme Kidul dan Cerme Lor.
Makam-makam tersebut diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir para prajurit dari era konflik antara Giri Kedaton dan Majapahit yang pernah terjadi di masa lampau.
Wilayah Cerme kala itu menjadi titik pertemuan sekaligus benteng pertahanan bagi para pengawal dan santri pilihan Sunan Giri yang bertugas mengamankan jalur dakwah di wilayah selatan Gresik.
“Sejarah ini membuktikan bahwa Cerme Kidul bukan sekadar desa biasa, melainkan wilayah yang memiliki nilai heroik. Makam-makam yang ada di desa kita adalah bukti bahwa leluhur kita terlibat langsung dalam dinamika sejarah besar antara Giri Kedaton dan Majapahit,” tegas Umi Khoirotun Nisak di hadapan para Sahabat Fatayat.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keberadaan makam-makam prajurit tersebut harus dijaga sebagai identitas desa serta sarana pembelajaran bagi generasi muda Nahdliyin agar tidak kehilangan jati diri.
Penjelasan ini pun mendorong kader Fatayat NU memiliki kebanggaan terhadap tanah kelahirannya serta memahami akar karakter masyarakat setempat yang dikenal tangguh serta teguh dalam memegang prinsip.
“Dengan mengetahui bahwa ada prajurit Giri Kedaton dan Majapahit yang dimakamkan di desa kita, kita jadi paham mengapa karakter masyarakat Cerme itu kuat dan religius. Ada nilai perjuangan yang diwariskan secara turun-temurun,” tambahnya dengan penuh semangat.
Rihlah religi ini diakhiri dengan komitmen bersama para Sahabat Fatayat NU Cerme Kidul untuk lebih peduli dan menjaga situs-situs lokal di desa mereka sendiri sebagai bentuk pelestarian warisan leluhur.
Kegiatan ini diharapkan menjadi pemantik bagi para kader untuk terus menggali sejarah perjuangan para ulama dan pejuang terdahulu sebagai bekal berharga dalam berorganisasi dan mengabdi di tengah masyarakat.
Penulis: Anis Ikmahani
Editor: Chidir Amirullah

