Mujahadah dan Apel 313 Kader NU Gresik Menyatu dengan Jejak Peradaban Mulia: Giri Kedaton

Redaksi NUGres Redaksi NUGres
Ratusan pengurus NU dari berbagai tingkatan, kader NU dari berbagai angkatan, serta masyarakat luas antusias mengikuti Mujahadah dan Apel 313 Kader NU yang diselenggarakan PCNU Gresik, Ahad (1/2/2026) dini hari. Foto: NUGres

GRESIK | NUGres – Malam perlahan turun di kawasan Situs Giri Kedaton, Kelurahan Sidomukti, Kebomas, Kabupaten Gresik. Di puncak bukit bersejarah itu, ratusan pengurus dan kader Nahdlatul Ulama (NU) dari berbagai kecamatan di Kabupaten Gresik mulai berdatangan sejak Sabtu (31/1/2026) menjelang tengah hari.

Kendati untuk menuju ke puncak Giri Kedaton perlu melalui terjalnya anak tangga yang berundak, namun justru menjadi saksi langkah-langkah penuh semangat warga Nahdliyin yang hendak mengikuti Mujahadah dan Apel 313 Kader NU.

Seiring waktu, kawasan yang dikenal sebagai pusat dakwah Kanjeng Sunan Giri itu kian dipadati jamaah. Mereka duduk berderet rapi, sebagian mengenakan sarung dan peci hitam, sebagian lain mengenakan seragam organisasi, menciptakan pemandangan khas kader NU yang menyatu dengan suasana spiritual dan sejarah. Dari puncak Giri Kedaton, lampu-lampu kota Gresik tampak berkedip-kedip bak kawanan kunang berterbangan, menambah kesan hening dan reflektif.

Tepat pukul 00.09 WIB, Ahad dini hari 1 Februari 2026, rangkaian Mujahadah dan Apel Kader NU dimulai. Acara diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, dilanjutkan pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Ya Lal Wathon, serta Shalawat Badar yang menggema lirih namun penuh penghayatan di ruang terbuka situs bersejarah tersebut.

Memasuki sesi Mujahadah dan Istighasah, suasana terasa semakin khidmat. Udara malam di atas bukit begitu tenang, nyaris tanpa suara kendaraan. Keheningan itu seolah mengajak seluruh jamaah untuk menundukkan hati dan pikiran. Mujahadah dipimpin oleh KH Moh. Zainul Huda Mafa, putra kedua pengasuh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Suci Manyar Gresik, Romo KH Masbuhin Faqih. Lantunan doa dan dzikir mengalir perlahan, menyatu dengan angin malam yang berembus pelan.

Usai Mujahadah, Ketua Tanfidziyah PCNU Gresik, Dr KH Mulyadi, menyampaikan taujihat kepada seluruh peserta. Ia menekankan bahwa khidmat di NU harus dilandasi keikhlasan dan kesiapan meneruskan perjuangan para muassis serta pendahulu NU. Menurutnya, kegiatan Mujahadah dan Apel 313 Kader NU di Giri Kedaton bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ikhtiar spiritual untuk meneguhkan kembali arah perjuangan.

Kiai Mulyadi juga mengulas makna mendalam pelaksanaan Mujahadah di tempat yang sarat sejarah dan keberkahan. Giri Kedaton, menurutnya, merupakan saksi kontribusi besar Kanjeng Sunan Giri dalam membangun peradaban Nusantara.

“Di tempat ini Kanjeng Sunan Giri berkontribusi nyata bagi peradaban dunia. Banyak raja datang ke sini, banyak para santri dari berbagai daerah bahkan lintas negara belajar di sini, kemudian kembali ke tempatnya masing-masing untuk menyebarkan nilai-nilai Islam,” tuturnya di hadapan ratusan kader NU.

Dari titik bersejarah tersebut, Kiai Mulyadi mengajak para kader untuk memetik pesan zaman dan menyongsong masa depan NU di Abad kedua dengan menjadikan nilai-nilai perjuangan sosok wali berjuluk Joko Samudro di masa kecil, berjuluk Prabu Satmata sebagai kala menjadi raja di wilayah perbukitan, hingga menjadi Kanjeng Sunan Giri sebagai sosok yang menjadi rujukan dakwah Islam. Semangat kebangkitan dan tanggung jawab sejarah terasa menguat di tengah jamaah yang menyimak dengan penuh perhatian.

Suasana penuh semangat berlanjut saat Ketua Badan Kaderisasi PCNU Gresik, Gus Ali Mujib, membacakan ikrar kader. Ia menegaskan bahwa ikrar tersebut tidak perlu diikuti secara lisan, melainkan diresapi secara batin oleh masing-masing kader yang hadir. Hening kembali menyelimuti Giri Kedaton, seiring para peserta menundukkan kepala, merenungi komitmen ke-NU-an mereka.

Menjelang penghujung acara, doa dipimpin secara bergantian oleh para kiai sepuh PCNU Gresik. Wakil Rais PCNU Gresik sekaligus Rais Iffadliyah Jatman Gresik, KH Qusyairi, memimpin doa pembuka, dilanjutkan oleh KH Ghufron dan KH Munir. Rangkaian doa tersebut menutup Mujahadah dan Apel 313 Kader NU dengan nuansa haru dan harapan, seolah mengikat kembali spiritualitas, sejarah, dan masa depan NU Gresik di atas puncak Giri Kedaton.

Kegiatan ini pun disebut panitia lokal dihadiri lebih dari 313 kader. “Kami sediakan 500 kotak snack, masih banyak yang belum kebagian,” ucap salah satu panitia. Acara ini pun direkomendasikan PCNU Gresik agar dapat digelar setiap tahun di tempat yang juga prasasti peradaban mulia, utamanya di momen peringatan Hari Lahir Nahdlatul Ulama.

Editor: Chidir Amirullah

Leave a comment