Perkuat Pendidikan Aswaja sekaligus Peringati Harlah ke-96, LP Maarif MWCNU Dukun Gresik Sowan ke Tebuireng

Syafik Hoo - NUGres Syafik Hoo - NUGres
Perkuat Pendidikan Aswaja sekaligus Peringati Harlah ke-96, LP Ma'arif MWCNU Dukun Gresik Sowan ke Tebuireng, Sabtu (27/9/2025). Foto: dok LP Ma'arif MWCNU Dukun/NUGres

GRESIK | NUGres – Para Dzurriyah hingga pengurus Yayasan Pesantren Tebuireng menyambut rombongan pengurus dan anggota Lembaga Pendidikan Ma’arif Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Dukun (LP Ma’arif MWCNU Dukun), Gresik, di Pesantren Tebuireng, Sabtu (27/9/2025).

Rombongan LP Ma’arif MWCNU Dukun tengah menggelar sowan dan bersilaturahmi dengan dzurriyyah Pesantren Tebuireng. Kegiatan ini bertempat di Gedung Yusuf Hasyim Lantai 1 Pesantren Tebuireng, Jombang.

Acara tersebut dihadiri oleh Sekretaris Utama Pesantren Tebuireng Ir. H. Abdul Ghofar, Mudir Bidang Pondok Cabang Tebuireng Abdul Mughni, serta Dr. KH. Ahmad Roziqi, Lc., M.H.I. Suasana berlangsung sederhana namun penuh makna dan kekhidmatan.

Dalam sambutannya, Gus Ghofar, sapaan akrab Ir. H. Abdul Ghofar, menegaskan pentingnya silaturahmi sebagai sarana memperkuat jejaring sekaligus memperdalam pembelajaran.

Ia menyontohkan sosok Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari yang bukan hanya berperan sebagai kiai, tetapi juga tokoh masyarakat yang menjadi rujukan umat.

“Silaturahmi seperti ini penting agar kita bisa belajar lebih banyak dan memperbaiki diri. Hadratussyeikh mampu memerankan diri sebagai kiai, tokoh masyarakat, sekaligus tempat bertanya bagi umat. Generasi sekarang tentu sulit memiliki kapasitas seperti beliau, karena itu perlu dibantu oleh para mudir dan orang-orang kompeten di bidangnya,” ungkapnya.

Gus Ghofar juga menambahkan bahwa salah satu ciri khas Pesantren Tebuireng adalah model kepemimpinan tunggal sehingga proses pengambilan keputusan berlangsung lebih cepat.

“Dengan satu pengasuh, keputusan di Tebuireng tidak bertele-tele, lebih ringkas dan efisien,” imbuhnya.

Sementara itu, KH. Ahmad Roziqi menyoroti pentingnya pengembangan pendidikan melalui penambahan madrasah. Menurutnya, keberadaan madrasah di bawah naungan LP Ma’arif MWCNU merupakan sarana untuk memperkuat ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.

“Memperbanyak madrasah adalah washilah untuk memperluas manfaat. Sesama warga NU harus legowo dan saling mendukung. Dengan adanya madrasah baru, kita bisa bekerja sama membangun pendidikan yang ideal dengan tujuan utama meneguhkan ke-aswajaan,” jelasnya.

Ia juga berpesan kepada para pengajar agar selektif dalam memilih kitab atau buku ajar demi menjaga kemurnian ajaran Aswaja.

“Kitab-kitab harus diperiksa agar tidak tersusupi paham yang bukan Aswaja. Lembaga pendidikan jangan hanya dijadikan sampingan, tapi dikelola serius. Jika tidak mampu sendiri, libatkan orang yang kompeten. Materi akidah dan fikih harus diajarkan oleh guru yang benar-benar tegak lurus dengan NU. Itulah tujuan tes keaswajaan dalam rekrutmen guru Tebuireng, agar ideologi kita tetap terjaga,” tegasnya.

Dari pihak LP Ma’arif MWCNU Dukun, Ikhwan Haji menyampaikan harapannya usai bertabarrukan di Pesantren Tebuireng.

“Kami meminta doa dan motivasi dari para kiai. Semangat pengabdian Ma’arif harus terus berlanjut. Harapannya, kegiatan-kegiatan pendidikan yang berkaitan dengan kurikulum, deep learning, maupun metode pembelajaran dapat terus dievaluasi dan diperbaiki, agar ke depan Ma’arif tetap berkembang dan tidak tertinggal,” ujarnya saat sambutan.

Agenda berikutnya yakni ziarah Ke Makam Mbah Hasyim Asy’ari di komplek Pesantren Tebuireng dengan penuh semangat dan kebersamaan.

Penulis: Syafik Hoo
Editor: Chidir Amirullah

Leave a comment