BUNGAH | NUGres – Mengisi rutinitas spiritual dalam bingkai organisasi, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Bungah kembali menggelar agenda Lailatul Kopdar ke-13 pada Rabu (4/3/2026) malam. Acara yang dihadiri oleh banom-banom NU mulai dari Ansor, Fatayat, hingga IPNU IPPNU ini menjadi ruang refleksi mendalam mengenai kondisi umat saat ini.
Hadir sebagai narasumber, Ustadz M. Atiq Mujahid (Gus Atiq) membedah kitab karangan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari yang memuat khutbah legendaris beliau di Markas Besar NU Surabaya pada 22 Syawal 1348 H (24 Maret 1930).
Dalam paparannya, Gus Atiq membacakan bab Ruhuddini fil Mujtama’ (Semangat Beragama dalam Masyarakat), dimana mbah Hasyim mengkritisi lemahnya beragama dalam masyarakat. Ia menjelaskan bahwa hanya empat tahun setelah NU berdiri, Mbah Hasyim sudah merasakan adanya pelemahan kualitas keberagamaan di tengah masyarakat.
“Mbah Hasyim mengkritik bahwa agama saat itu mulai melemah. Bukan Islamnya yang lemah, karena Al-Qur’an dan Hadisnya tetap sama, melainkan penghayatan, pemaknaan, dan moralitas umatnya yang tergerus arus ekonomi dan kolonialisme,” terang Gus Atiq.
Ia menekankan bahwa kualitas beragama tidak boleh hanya diukur dari ramainya masjid atau khusyuknya madrasah.
“Jangan melihat agama di tempat yang mulia saja. Mbah Hasyim mengajak kita menoleh ke pasar-pasar dan jalanan. Di situlah ukuran moralitas yang sesungguhnya. Apakah di pasar masih ada kejujuran? Ataukah yang bagus ditaruh di atas dan yang buruk disembunyikan di bawah?” tegasnya.
Merujuk pada dawuh Mbah Hasyim Asy’ari, Gus Atiq menyampaikan langkah-langkah strategis yang harus diambil oleh para ulama dan santri untuk mengembalikan marwah agama: Pertama, Persatuan Ulama. Para kiai, santri, dan penggerak organisasi harus bersatu dan tidak bercerai-berai (ojo perenco-perenco) hanya karena perbedaan pilihan politik.
“Kedua, Satu Barisan. Menyamakan visi dan langkah dalam satu komando ahlusunnah wal jamaah demi kemaslahatan umat. Ketiga, Mengutamakan Kepentingan Umum. Mengesampingkan kepentingan pribadi di atas kepentingan orang banyak (Asyahsiyati). Gus Atiq mencontohkan bagaimana seorang santri harus lebih mengutamakan mengajar daripada sekadar nongkrong atau urusan pribadi lainnya,” terangnya.
Terakhir, adalah Li i’lai Kalimatillah. Maksudnya, Menujukan semua motivasi perjuangan hanya untuk menjunjung tinggi agama Allah.
Menutup pengajian, Gus Atiq mengajak seluruh kader NU, khususnya sahabat-sahabat Ansor, untuk tidak ragu “turun ke bawah” menyapa masyarakat yang berada di wilayah marginal, seperti di pinggir jalan atau pojok terminal.
“Semakin kita hanya berkutat di wilayah aman, kualitas Islam tidak akan bisa diukur. Kita harus hadir mendampingi mereka agar nilai-nilai agama seperti kejujuran dan kemanusiaan benar-benar tertanam,” pungkasnya. Acara Lailatul Kopdar ini diakhiri dengan doa bersama dan ramah tamah antar kader lintas generasi di lingkungan MWC NU Bungah.
Penulis: Maghfur Munif
Editor: Chidir Amirullah

