Harlah ke-76 Fatayat Nahdlatul Ulama: Dari Langkah Sunyi Perempuan untuk Ketahanan Keluarga

Redaksi NUGres Redaksi NUGres
Potret perempuan dalam berbagai peran. Ilustrasi: Artificial Intelligence

Oleh: Khalimatus Sa’diyah*

KOLOM KALEM | NUGres“Berdaya, Berdampak, Mendunia” bukanlah ukuran yang hanya bisa dilekatkan pada perempuan perkotaan yang berkarier di kantor-kantor besar. Sebab keberdayaan perempuan memiliki wajah yang beragam, sesuai dengan ruang hidup dan perjuangan masing-masing.

Di kota, keberdayaan mungkin tampak pada perempuan yang aktif bekerja di ruang profesional, membangun karier, memimpin perusahaan, atau bergerak di sektor publik.

Namun, di desa-desa Gresik, keberdayaan perempuan hadir dalam wajah yang berbeda. Menjadi guru diniyah, guru TK, membantu mengolah sawah, mengurus keluarga, lalu tetap siap ketika organisasi seperti Fatayat NU memanggil untuk berkhidmat.

Mereka mungkin tidak tampil dengan jas kerja atau duduk di ruang rapat berpendingin udara, tetapi mereka menjalankan peran-peran penting yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Dari tangan mereka lahir pendidikan anak-anak, terjaga nilai-nilai keagamaan, terbantu ekonomi keluarga, dan hidup organisasi tetap bergerak. Inilah bentuk berdaya yang nyata: perempuan yang tetap produktif, mandiri, dan hadir untuk umat di tengah segala keterbatasan.

Dari situ lahir dampak yang sangat besar. Seorang guru diniyah di desa mungkin mengajar di ruang sederhana, tetapi ia sedang membangun generasi. Seorang perempuan yang turun ke sawah mungkin terlihat biasa, tetapi ia sedang menopang kehidupan keluarganya.

Atau, seorang kader Fatayat yang datang memenuhi panggilan organisasi mungkin tampak sederhana, tetapi ia sedang menjaga nyala pengabdian di tengah masyarakat. Dampak mereka tidak selalu terlihat megah, tetapi nyata dan mengakar.

Dan ketika semua pengabdian itu dilakukan dengan konsisten, maka itulah makna mendunia yang sesungguhnya. Mendunia tidak selalu berarti dikenal di panggung internasional, tetapi bagaimana nilai perjuangan itu menjadi inspirasi universal.

Bahwa perempuan, di mana pun ia berada—baik di kota maupun di desa—punya kesempatan yang sama untuk berdaya dan memberi dampak. Perempuan desa yang mengajar, bertani, dan berkhidmat juga sedang menunjukkan kepada dunia bahwa kekuatan perempuan lahir dari ketulusan, ketangguhan, dan pengabdian.

Karena itu, perempuan di pedesaan Gresik tidak bisa dipandang lebih rendah dibanding perempuan perkotaan yang berkarier. Jalan hidup mereka berbeda, tetapi nilai perjuangannya sama. Mereka adalah perempuan-perempuan tangguh yang berdaya dalam kesederhanaan, berdampak dalam pengabdian, dan mendunia lewat keteladanan.

*Khalimatus Sa’diyah, Anggota Fatayat NU Ranting Ngering, Kecamatan Cerme, Gresik 

Leave a comment