GRESIK | NUGres – Dalam semangat memperkuat peran perempuan pesantren di era modern, kegiatan Silaturahim Nasional (Silatnas) Bu Nyai Nusantara ke-4 digelar di Pondok Pesantren Krapyak, Yayasan Ali Maksum, Yogyakarta, pada Sabtu–Ahad, 1–2 November 2025.
Mengusung tema “Transformasi Pesantren: Merawat Tradisi, Membangun Inovasi”, agenda nasional ini menjadi wadah pertemuan para Bu Nyai se-Nusantara untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, dan merumuskan langkah strategis dalam menghadapi tantangan pendidikan dan sosial di lingkungan pesantren.
Berdasarkan informasi yang dihimpun NUGres, sebanyak 14 pengurus Bu Nyai Nusantara Kabupaten Gresik turut menghadiri acara Silatnas Bu Nyai Nusantara ke-4 tersebut.
“Gresik membawa sebanyak 14 orang. Jumlahnya terbanyak, karena sebenarnya utusan per kabupaten hanya lima orang,” tutur Nyai Hj Ruqoyah Bibi, salah satu peserta asal Gresik di Yogyakarta.
Kegiatan nasional ini turut dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Permaisuri Sri Sultan Hamengkubuwana X, yang memberikan sambutan pembuka. Acara secara resmi dibuka oleh Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).
Dalam sambutannya, Gus Yahya mengutip hasil penelitian Hiroko Horikoshi pada tahun 1970-an yang menyoroti peran penting Nyai di pesantren Banten. “Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa di pesantren itu justru Nyai yang paling berkuasa,” ujar Gus Yahya, sebagaimana dikutip dari Live Streaming YouTube TVNU, diakses NUGres, Sabtu (1/11/2025) malam.
Gus Yahya menegaskan bahwa Nyai berperan penting dalam manajemen rumah tangga, pengelolaan pondok pesantren, hingga kehidupan sosial di lingkungan sekitar. Ia menggambarkan bahwa tradisi perempuan sebagai pengelola utama kehidupan masyarakat merupakan bagian dari budaya Nusantara sejak lama.
“Kita tahu, dalam masyarakat petani Nusantara, justru perempuanlah yang menjadi penguasa sesungguhnya. Laki-laki hanya buruh macul. Tapi ketika panen, perempuan yang pegang hasilnya, membawa ke pasar, dan mengatur keuangan keluarga,” tutur Gus Yahya sambil berkelakar.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa misogini di Nusantara hanya bersifat simbolis, karena sejatinya perempuan memegang peranan sentral dalam kehidupan sosial. “Istilah konco wingking itu hanya etalase. Isinya tetap perempuan,” ujarnya.
Gus Yahya juga menegaskan bahwa menonjolnya peran perempuan di lingkungan pesantren dan masyarakat Nusantara bukanlah hal baru, melainkan bagian dari tradisi yang sudah mengakar kuat. Ia mencontohkan pengalaman seorang peneliti dari Australia yang datang ke Rembang untuk mempelajari nilai-nilai feminisme dari sosok Ibu Kartini.
“Feminisme Barat kini cenderung dekaden karena berangkat dari semangat balas dendam kepada laki-laki. Sementara di Nusantara, perempuan justru membangun kesetaraan dengan harmoni, bukan pertentangan,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Gus Yahya juga menekankan pentingnya transformasi pesantren yang menyeimbangkan antara tradisi dan inovasi. Menurutnya, setidaknya terdapat dua hal pokok dalam dinamika peran Nyai di pesantren: peningkatan kapasitas diri melalui pendidikan, serta peran aktif dalam mendidik dan mengembangkan potensi santri.
“Lingkungan, dunia, dan masyarakat terus berubah. Maka segala sesuatu harus dikelola dengan cara yang menyesuaikan perubahan. Transformasi adalah proses tawar-menawar antara elemen yang harus dipertahankan dan inovasi yang perlu diadopsi,” tegas Gus Yahya.
Ia menutup sambutannya dengan penekanan bahwa jati diri pesantren harus tetap dijaga, termasuk tradisi memuliakan guru. “Kalau memuliakan guru dianggap feodal, maka kita akan memilih tetap feodal daripada kehilangan jati diri pesantren,” tandasnya.
Di penghujung sambutannya, Gus Yahya mengajak Bu Nyai Nusantara menjadi katalisator dalam menghadapi berbagai tantangan, kerumitan dan pondok pesantren terus berkonsolidasi satu sama lain untuk menghadapi masa depan.
Usai acara pembukaan Silatnas ke-4 Bu Nyai Nusantara, agenda dilanjutkan besok Ahad 2 November 2025 dengan seminar di Universitas Alma Ata Yogyakarta. Tampak hadir di antara belasan Bu Nyai Nusantara Gresik yakni Nyai Hj Dr Aminatun Habibah.
Editor: Chidir Amirullah

