Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy*
Santri bukan hanya penjaga masa lalu, tetapi penuntun masa depan, dengan ilmu yang berakar pada nilai dan berpucuk pada kemaslahatan.
KOLOM KALEM | NUGres – Pembicaraan tentang santri tidak pernah selesai bersama berlalunya peringatan atau seremoni tertentu. Santri bukan sekadar bagian dari sejarah, melainkan mata rantai peradaban yang terus berlanjut. Mereka lahir dari pesantren—lembaga yang menjaga keseimbangan antara ilmu dan adab, antara nalar dan nurani. Karena itu, ketika zaman berubah begitu cepat, peran dan tantangan santri pun ikut berubah: bagaimana tetap menjadi penjaga nilai di tengah dunia yang kehilangan arah.
Santri masa kini hidup dalam zaman yang tidak lagi sederhana. Dunia pesantren kini bersentuhan langsung dengan arus global, teknologi digital, dan krisis moral yang kian kompleks. Jika dahulu tantangan utama santri adalah penjajahan fisik, kini tantangannya adalah penjajahan pikiran –coloniality of mind– yang membuat banyak orang kehilangan jati diri keislaman dan keindonesiaannya. Di sinilah pesantren dan santrinya harus mengambil posisi strategis: bukan hanya reaktif terhadap perubahan, melainkan proaktif memberi arah moral dan intelektual pada perubahan itu.
Tantangan pertama adalah era disrupsi moral. Santri harus tetap menjadi benteng akhlak di tengah budaya instan, hedonistik, dan viral. Dunia digital menuntut kecepatan, sementara pesantren mengajarkan kesabaran. Dua nilai ini sering berhadapan. Godaan eksistensi di media sosial, misalnya, dapat menjerumuskan siapa pun pada sikap riya modern—menampilkan kebaikan demi pujian, bukan keikhlasan. Padahal, nilai tertinggi santri bukan pada tampilannya, melainkan pada ta’dib, kematangan moral dan spiritual. Jika dunia luar berlomba menjadi terkenal, maka santri harus berlomba menjadi berguna.
Kedua, tantangan ilmu dan kompetensi. Dunia modern menuntut kemampuan baru: literasi digital, ekonomi syariah, ekologi, bahkan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Santri tidak boleh merasa cukup dengan kitab kuning semata, tetapi juga harus menguasai “kitab putih” –ilmu pengetahuan duniawi yang membawa maslahat. Namun, integrasi dua kutub ilmu itu harus tetap berpijak pada nilai, bukan sekadar utilitas.
Artinya, santri boleh mempelajari ilmu modern yang “berguna” secara duniawi, tetapi jangan sampai ukuran kebenaran atau kemuliaan ilmu hanya ditentukan oleh seberapa bermanfaat secara materi atau pragmatis. Ilmu harus tetap diletakkan dalam kerangka ibadah, dimaknai sebagai sarana menegakkan keadilan, memuliakan kehidupan, dan menebar rahmat bagi semesta. Ilmu tanpa nilai hanya akan melahirkan manusia cerdas yang kehilangan nurani. Sebaliknya, ilmu yang berjiwa adab akan melahirkan peradaban yang berkeadilan.
Ketiga, tantangan kepemimpinan dan pengaruh sosial. Di tengah krisis keteladanan publik, santri dituntut untuk tampil sebagai penjaga nurani bangsa. Ia tidak cukup berdakwah di mimbar, tetapi harus berani hadir di ruang-ruang pengambilan keputusan; menjadi suara kebenaran di tengah hiruk-pikuk kekuasaan. Santri sejati tidak boleh kehilangan keberanian moralnya. Ia harus mampu berkata benar walau di hadapan yang berkuasa, sekaligus tetap rendah hati di hadapan rakyat kecil.
Kepemimpinan santri bukanlah soal jabatan, melainkan teladan. Ia menuntun dengan akhlak, bukan dengan amarah. Ia menebar ketenangan, bukan kebisingan. Jika ulama dahulu menjaga bangsa dengan doa dan perjuangan, maka santri hari ini harus menjaga bangsa dengan integritas dan ilmu pengetahuan.
Maka, masa depan santri bukan hanya soal berapa banyak yang sukses di pemerintahan, kampus, atau dunia profesional. Lebih dari itu, masa depan santri ditentukan oleh sejauh mana mereka mampu memelihara ruh pesantren: keikhlasan, tawadhuʿ, dan keberanian moral.
Santri tidak sedang menuju dunia baru, melainkan sedang mengajarkan dunia agar kembali pada nilai-nilai lama yang mulia: kejujuran, kesederhanaan, dan tanggung jawab. Pesantren akan terus hidup selama masih ada santri yang belajar dengan niat, berjuang dengan adab, dan berkhidmat dengan keikhlasan. Dari pesantren, peradaban yang santun dan beradab itu akan terus tumbuh, menuntun Indonesia ke masa depan yang bermartabat.
*Ahmad Chuvav Ibriy, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin Mojowuku Kedamean. Juga penasihat LBM PCNU Kabupaten Gresik, Jawa Timur.



