GRESIK | NUGres — Peringatan haul ke-587 Raden Santri (Sayyid Ali Murtadho/Raja Pandita Wunut), kakak dari Sunan Ampel, kembali digelar dengan serangkaian kegiatan religius di kawasan Pendopo Makam dan sepanjang Jalan Raden Santri, Gresik. Rangkaian acara dimulai sejak Sabtu 5 Juli 2025 hingga Jumat 18 Juli 2025.
Acara diawali dengan sarasehan pada Sabtu, 5 Juli 2025 (9 Muharrom 1447 H) pukul 19.30 WIB, mengangkat tema “Sunan Gresik dalam Pusaran Mitos, Fakta, dan Realitas Sejarah”. Sarasehan ini menjadi ruang diskusi bagi masyarakat dan sejarawan untuk menelisik jejak sejarah Sunan Gresik yang kerap bercampur antara mitos dan fakta sejarah.
Memasuki Kamis, 10 Juli 2025 (14 Muharrom 1447 H), rangkaian kegiatan berlanjut dengan khataman putri sejak pagi hari pukul 06.00 hingga 14.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan tahlil putri mulai pukul 15.00 WIB.
Pada Jumat, 11 Juli 2025 (15 Muharrom 1447 H), kegiatan serupa digelar untuk kalangan putra. Khataman putra berlangsung mulai pukul 06.00 hingga 14.00 WIB, diikuti dengan tahlil putra pada pukul 15.00 WIB. Pada hari yang sama, juga dilaksanakan tahlil khusus anak-anak di Jalan Raden Santri Gang 5 mulai pukul 15.00 WIB. Puncaknya, pembacaan Maulid Nabi digelar mulai pukul 19.00 WIB hingga selesai.
Keesokan harinya, Sabtu, 12 Juli 2025 (16 Muharrom 1447 H), masyarakat akan mengikuti Majlis Dzikir dan Maulidurrosul Muhammad SAW sebagai wujud rasa cinta kepada Rasulullah.
Sebagai penutup, Jumat, 18 Juli 2025 (22 Muharrom 1447 H) digelar Majlis Siji Bersholawat yang dimulai sejak pukul 04.45 WIB hingga selesai, menjadi penanda khidmatnya haul tahun ini.
Peringatan Haul Raden Santri selalu menjadi momentum spiritual sekaligus budaya, mempererat silaturahmi masyarakat Gresik dalam bingkai kecintaan kepada para leluhur wali.
Seperti diketahui Gresik merupakan salah satu titik masuknya Islam ke pulau Jawa. Sebagai sebuah kota pelabuhan internasional yang tersohor, ia banyak dikunjungi berbagai bangsa mulai Eropa, Arab, maupun Cina.
Tak hanya untuk kepentingan perdagangan, penyebaran agama Islam menjadi misi dari para mubalig asal tanah asing. Mereka orang-orang pilihan, menguasai berbagai ilmu dan keterampilan hidup, serta berakhlak mulia. Termasuk, Syekh Ibrahim Asmoroqondi dan Syekh Maulana Malik Ibrahim.
Syekh Ibrahim Asmoroqondi menjejakkan kaki di nusantara terlebih dahulu dibandingkan keponakannya.Syekh Maulana Malik Ibrahim. Syekh Ibrahim Asmoroqondi kemudian mendirikan pesantren di wilayah Tuban tepatnya di sebuah desa yang sekarang bernama Gesikharjo, dan dimakamkan di sana setelah wafat.
Pada masa yang berbeda, Syekh Maulana Malik Ibrahim hadir di wilayah Gresik. Ia berjasa besar bagi masyarakat dan pemerintah Majapahit kala itu, hingga diberi hadiah berupa tanah perdikan untuk mendirikan pesantren di Gapura Sukolilo, Gresik.
Di masa sekarang, banyak orang menyematkan gelar “Sunan Gresik” kepada Syekh Maulana Malik Ibrahim. Padahal, tidak satu pun serat, babad, atau buku-buku sejarah yang terbit bahkan hingga periode tahun 90-an yang menisbatkan gelar ini kepada Syekh Maulana Malik Ibrahim.
Lantas siapakah sebenarnya yang disebut sebagai Sunan Gresik menurut catatan sejarah? Nah, di forum sarasehan sebagai rangkaian Haul ke-587 Raden Santri pada Sabtu 5 Juli 2025 bakal menjawab teka-tekinya.
Editor: Chidir Amirullah

