Menyigi Jejak Sunan Giri di Giri Kedaton, Lokasi Mujahadah 313 Kader NU Gresik

Redaksi NUGres Redaksi NUGres
Flyer publikasi MUJAHADAH & APEL 313 KADER NU, sebagai rangkaian Harlah NU ke-100 Tahun Masehi (1926—2026). Foto/ilustrasi: NUGres

Oleh: Farida Novita Rahmah*

KOLOM KALEM | NUGres – PCNU Gresik akan menggelar Mujahadah 313 Apel Kader NU dalam rangka peringatan satu abad Nahdlatul Ulama (1926–2026) pada Ahad, 1 Februari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di kawasan Giri Kedaton, sebuah ruang sejarah yang sejak abad ke-15 telah menjadi pusat perjumpaan antara ilmu, kekuasaan, dan kebudayaan Islam di Jawa.

Mujahadah tersebut menghadirkan dimensi spiritual yang kuat, sekaligus membuka ruang perenungan kolektif. Angka 313 merujuk pada jumlah Ashabul Badr, para sahabat Nabi yang terlibat dalam Perang Badar. Dalam sejarah Islam, Badar dipahami sebagai peristiwa pembentukan etos: disiplin, keberanian, dan kepercayaan penuh pada nilai yang diyakini.

Pilihan Giri Kedaton sebagai lokasi mujahadah mengandung lapisan makna historis. Tempat ini berkaitan erat dengan Sunan Giri, tokoh Wali Songo yang dikenal luas sebagai ulama, pendidik, sekaligus penguasa politik. Dari wilayah perbukitan Giri, Sunan Giri membangun sistem dakwah yang berakar kuat dalam struktur sosial masyarakat pesisir Jawa Timur.

Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo (Pustaka Ilman, 2016) memaparkan, Sunan Giri memiliki latar belakang yang kompleks. Ia lahir dengan nama Jaka Samudra, diasuh oleh Nyai Pinatih—seorang saudagar perempuan berpengaruh di Gresik—sebelum berguru kepada Sunan Ampel di Ampeldenta. Di lingkungan inilah ia memperoleh fondasi keilmuan Islam, termasuk tasawuf dalam jalur Tarekat Syathariyah.

Nama Jaka Samudra kemudian diganti menjadi Raden Paku, menandai perubahan status sosial sekaligus politik. Perubahan nama ini bukan sekadar simbol personal, melainkan penegasan posisi Raden Paku sebagai bagian dari elite penguasa Jawa pasca-Majapahit. Dari sini, jalan Sunan Giri sebagai pemimpin wilayah mulai terbentuk.

Jejak kekuasaan Sunan Giri dapat dilacak melalui struktur Giri Kedaton. Penelitian menunjukkan adanya Bangsal Sri Manganti sebagai pusat pemerintahan, Kepatihan sebagai kantor patih, serta Puri Kedaton di puncak bukit Giri sebagai kediaman raja dan pusat ritual. Tata ruang ini mencerminkan pola kekuasaan kerajaan Jawa, sekaligus fungsi keagamaan yang menyatu.

Sunan Giri dikenal dengan gelar Prabu Satmata atau Sunan Giri—sebuah gelar yang mengandung makna raja sekaligus guru suci. Dalam tradisi Jawa-Islam, posisi ini disebut Pandhito Ratu. Dengan otoritas ganda tersebut, dakwah Islam tidak hanya bergerak melalui mimbar dan pengajaran, tetapi juga melalui kebijakan politik dan pengelolaan masyarakat.

Bidang pendidikan menjadi salah satu fokus utama Sunan Giri. Pesantren Giri berkembang sebagai pusat keilmuan yang menampung santri dari berbagai wilayah Nusantara, mulai Jawa, Kalimantan, hingga kawasan timur seperti Ternate dan Tidore. Model pendidikan ini memperlihatkan kemampuan pesantren membangun jaringan lintas wilayah sejak awal sejarah Islam Nusantara.

Selain pendidikan formal pesantren, Sunan Giri memanfaatkan kebudayaan sebagai sarana dakwah. Ia menciptakan tembang dolanan anak, permainan rakyat, dan melakukan pembaruan pada seni pertunjukan wayang. Melalui medium ini, ajaran Islam diperkenalkan secara halus, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan mudah diterima oleh masyarakat (Sunyoto, 2016).

Spirit inilah yang relevan untuk dibaca ulang dalam konteks hari ini. Pesantren dan organisasi keagamaan dihadapkan pada arus industrialisasi, perubahan pola kerja, pergeseran gaya hidup, dan tekanan ekonomi. Tantangan tersebut menuntut daya tahan, kecerdasan membaca zaman, serta keteguhan nilai.

Mujahadah 313 di Giri Kedhaton menjadi ruang penguatan batin kader NU Gresik dalam menghadapi situasi tersebut. Seperti Ashabul Badr, kekuatan tidak diukur dari jumlah atau kelengkapan material, melainkan dari disiplin spiritual, kohesi sosial, dan kejelasan tujuan perjuangan.

Jejak Sunan Giri menunjukkan bahwa pesantren sejak awal tidak berdiri di luar realitas sosial. Ia hadir sebagai pusat pendidikan, kekuasaan moral, dan penggerak kebudayaan. Ketahanan pesantren terbangun dari kemampuannya beradaptasi tanpa kehilangan orientasi nilai.

Satu abad Nahdlatul Ulama memberi kesempatan untuk menengok kembali akar tersebut. Dari Giri Kedaton, NU belajar bahwa tradisi bukan beban masa lalu, melainkan sumber energi untuk membaca masa depan. Di tengah perubahan yang terus bergerak, spirit Sunan Giri mengajarkan keteguhan, keluasan pandang, dan keberanian menjaga nilai dalam lanskap zaman yang berubah.

*Farida Novita Rahmah, Nahdliyin Gresik, lulusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Sunan Ampel dan UIN Syarif Hidayatullah

Leave a comment