Oleh: Muhammad Mustajib, S.Kom., M.M.*
KOLOM KALEM | NUGres – Bulan Maulid itu memang selalu punya vibe yang beda. Apalagi kalau diisi dengan ziarah ke para wali. Rabu, 27 Agustus 2025 kemarin, saya ikut rombongan Pimpinan Pusat dan Pimpinan Wilayah GP Ansor berziarah ke makam Sayyid Ali Rahmatullah—yang kita kenal sebagai Sunan Ampel—di kawasan Surabaya Utara, tepatnya di lingkungan Kampung Arab, Ampel.
Yang bikin istimewa, perjalanan ini ditemani langsung oleh sosok bersahaja nan visioner: H. Addin Jauharudin, Ketua Umum PP GP Ansor, yang didampingi oleh Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, sahabat H. Musaffa Safril. Dua sosok ini hadir bukan hanya sebagai pemimpin organisasi, tapi juga sebagai teladan dalam menjaga tradisi dan spiritualitas di tengah dinamika zaman.
H. Addin Jauharudin sendiri bukan tipe pemimpin yang hanya jago memberi instruksi, tapi juga lead by example. Di tengah kesibukannya sebagai nahkoda organisasi sekaligus komisaris salah satu BUMN, beliau masih sempat membaca buku, menulis, bahkan melanjutkan studi doktoral di Universitas Brawijaya. Kadang saya mikir, ini orang kapan tidurnya?
Di sela-sela ziarah, beliau menyempatkan diri berlama-lama di makam Sunan Ampel dan para auliya di sekitarnya. Bukan sekadar ritual, tapi juga kontemplasi. Dari situlah kita belajar, bahwa spiritualitas itu bukan pelarian dari realitas, tapi justru energi untuk menghadapi realitas.
Yang menarik, gaya kepemimpinan beliau mampu membuat GP Ansor relevan dengan aspirasi anak muda. Tidak hanya aktivis, tapi juga profesional, akademisi, bahkan praktisi bisnis ikut merasa at home di dalamnya. Kata kuncinya: pendekatan yang kreatif dan terobosan gagasan yang punya magnet. Singkatnya, GP Ansor jadi rumah bersama bagi mereka yang peduli pada masa depan kebangsaan.
Konsep yang sering dikutip dari Albert Einstein—“Science without faith is blind, faith without science is lame”—tampaknya pas untuk menggambarkan beliau. Ada keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Sesuatu yang jarang kita temui di era medsos penuh gimik hari ini.
Sebagai generasi Z, saya merasa nilai-nilai itu yang bikin saya betah di GP Ansor. Bukan cuma soal sosial-keagamaan, tapi juga bagaimana organisasi ini membuka ruang adaptasi lintas disiplin. Karena jujur saja, dalam hidup kita nggak pernah tahu siapa yang akan kita temui dan peluang apa yang bisa datang.
Dan yang paling penting: di Ansor, kita bisa membangun persahabatan non-transaksional—bukan sekadar “kenal kalau ada maunya”. Ini support system yang lebih sustainable. Teman-teman positif, lingkungan sehat, dan nilai-nilai kebersamaan. Semua itu bisa kita temukan dalam satu seragam: Jas GP Ansor.
Sekian refleksi sederhana ini, semoga bermanfaat. Salam hangat, sahabat.
*Muhammad Mustajib, S.Kom., M.M. Anggota Badan Siber Ansor Jawa Timur. Pecinta buku, penikmat kopi. Kerjaannya bikin sistem informasi, tapi lebih sering ditanya cara reset password. Lagi doyan kuliah juga, biar ada alasan begadang.

