Pedoman Berpikir Nahdlatul Ulama: Tawassuth

Redaksi NUGres Redaksi NUGres

NUPEDIA | NUGres – Naskah pemikiran KH Achmad Siddiq tertuang dalam sebuah buku berjudul Pedoman Berpikir Nahdlatul Ulama (Alfikrah an-Nahdliyah) yang disusun oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Jember 1969.

Buku yang menghimpun pemikiran Rais Aam PBNU 1984-1991 tersebut selanjutnya ditulis kembali oleh Forum Silaturahmi Sarjana Nahdlatul Ulama Jawa Timur (FOSSNU JATIM) pada 9 Oktober 1992.

Pemikiran santri Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari ini menjadi salah satu karya masyhur lantaran terus ditransformasikan dalam ruang-ruang kaderisasi Nahdlatul Ulama hingga kini.

Dalam buku Pedoman Berpikir Nahdlatul Ulama (Alfikrah an-Nahdliyah), dijelaskan bila terdapat beberapa karakter yang mesti dipahami para kader tentang sikap yang berat sebelah dan bertentangan dengan prinsip Tawassuth disarikan oleh K.H. Achmad Siddiq dalam buku tersebut antara lain:

  • Tahawwur, yaitu terlalu ‘berani’ sehingga tidak memperhitungkan akibat dari sesuatu perbuatan yang menimbulkan bahaya dan kerusakan.
  • Jubn, Terlalu ‘memperhitungkan’ bahaya, sehingga tidak berani berbuat sesuatu dengan alasan ‘perhitungan dan kebijaksanaan’.
  • Takabbur, terlalu tinggi menilai diri sendiri, terlalu rendah menilai orang lain. Menjadi sombong, congkak, ‘ujub, dan seterusnya.
  • Ihanatunnafs, terlalu rendah menilai diri sendiri dan terlalu tinggi menilai pihak lain. Sehingga menjadi penakut, pesimis, diam dan apatis.
  • Bukhl, terlalu ‘seret’ mengeluarkan harta benda, hanya menjadi ‘waker’ (penjaga) dari harta bendanya.
  • Isrof, terlalu mudah mengeluarkan harta bendanya sehingga habis harta bendanya tanpa manfaat, nafsu-nafsu yang tidak terkendalikan lagi.
  • Iitsar, terlalu bersemangat mengorbankan diri dan kepentingannya, sehingga “sengaja merusak” diri dengan maksud membela pihak lain.
  • Ananiyah, terlalu mementingkan diri sendiri sehingga mengorbankan kepentingan orang lain, mencari untung untuk diri sendiri dengan merugikan pihak lain.

Editor: Chidir Amirullah

Leave a comment