Ramadhan, Pangan Lokal, dan Badhogan Gresik

Redaksi NUGres Redaksi NUGres
Dua gambar karya pelajar Gresik tentang kearifan lokal, dipajang dalam sebuah event kesenian dan kebudayaan 20 Desember 2025 waktu lalu. Foto: Chidir/NUGres

مُ، سَمِّ اللهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

Yā ghulāmu, sammillāh, wa kul bi yamīnik, wa kul mimmā yalīk.

Artinya: “Wahai anak muda, sebutlah nama Allah (bacalah bismillah), makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang terdekat darimu.” (Muttafaqun ‘alaih).


Oleh: Farida Novita Rahmah*

KOLOM KALEM | NUGres – Pesan Nabi itu sering terdengar sederhana, bahkan seperti nasihat harian yang biasa diulang orang tua kepada anaknya. Namun jika direnungi lebih jauh, ia tidak berhenti pada adab personal. Di dalamnya tersimpan etika sosial, ekonomi, bahkan ekologi yang relevan dengan cara kita memperlakukan pangan hari ini.

Perintah untuk makan dari yang terdekat—mimmā yalīk—bisa dibaca sebagai dorongan untuk memanfaatkan apa yang ada di sekitar. Dalam konteks kekinian, ini selaras dengan gagasan konsumsi pangan lokal: memilih hasil bumi daerah sendiri sebelum bergantung pada produk yang menempuh perjalanan panjang (Irfan Maulana, dkk. 2026).

“Yang dekat” bukan sekadar soal jarak fisik, tetapi juga kedekatan relasi—antara konsumen dan petani, antara dapur rumah dan ladang di desa. Ketika seseorang memilih membeli hasil panen lokal, sesungguhnya ia sedang menjaga rantai ekonomi tetap hidup di lingkungannya sendiri.

Di titik ini, ajaran Nabi tidak hanya membimbing tata krama makan, tetapi memberi fondasi etis bagi sistem pangan yang berkeadilan. Mengutamakan yang dekat berarti menghargai kerja petani, nelayan, dan pedagang kecil.

Ia juga berarti mengurangi jejak distribusi yang panjang dan rentan. Dalam situasi global yang mudah terguncang krisis, kebiasaan mengonsumsi pangan lokal dapat menjadi bentuk ketahanan yang sunyi namun kokoh.

Konsumsi pangan lokal memang berkaitan erat dengan ketahanan pangan. Ketika masyarakat terbiasa mengolah dan menikmati apa yang tersedia di lingkungannya, ketergantungan pada impor berkurang.

Risiko kelangkaan pun bisa ditekan. Prinsip mimmā yalīk dapat ditafsirkan sebagai strategi sederhana untuk menjaga keberlangsungan komunitas—dimulai dari keluarga, meluas ke desa, hingga negara.

Sementara itu, membaca basmalah sebelum makan menanamkan kesadaran spiritual bahwa pangan adalah amanah dari Allah. Ia bukan sekadar komoditas yang bisa dieksploitasi tanpa batas. Kesadaran ini mendorong sikap tidak berlebihan, tidak boros, dan tidak merusak sumber daya.

Banyak krisis pangan berakar pada kerakusan dan eksploitasi alam yang melampaui batas. Maka dimensi spiritual dalam makan menjadi penting: ia mengingatkan bahwa setiap butir nasi dan setiap teguk air memiliki jejak panjang kerja manusia dan kemurahan Tuhan. Di beberapa daerah, makan sendiri adalah sebuah ritual, peristiwa, dan kegiatan yang dilakukan kesadaran jiwa.

Di Gresik, “pangan” atau “makanan” dikenal dengan istilah badhogan. Kata ini merujuk pada ragam hidangan khas yang akrab di lidah warga. Maknanya semakin kuat ketika Ramadhan tiba.

Pada waktu tertentu, Gresik mencoba merawat pangan lokal dengan mengadakan “Festival Badhogan Gresik”, “Pasar Panganan Giri Mbiyen”, dan kala Ramadan, ada “Festival Pasar Bandeng”, “Gadon-Gadon Lumpur Gresik”, dan lainnya.

Di antara berbagai macam badhogan tersebut, ada bongko kopyor yang lembut, manis santannya menyatu dengan aroma daun pisang yang membungkusnya. Ketika dibuka menjelang berbuka, uap hangatnya seperti membawa kenangan masa kecil.

Ada pula kolak ayam Gumeno—sering disebut sanggring—perpaduan rasa gurih dan manis yang khas dan tidak mudah ditemukan di tempat lain. Bonggolan berbahan dasar ikan dengan tekstur kenyal juga menjadi bagian dari lanskap rasa itu.

Saat hidangan-hidangan itu tersaji di meja berbuka, yang hadir bukan sekadar rasa kenyang. Ada kesinambungan ingatan. Ada pasar Ramadhan yang ramai nan akrab, suara penjual memanggil pembeli, dan anak-anak yang tak sabar menunggu azan magrib.

Dalam setiap suapan yang diawali dengan basmalah, tersimpan harapan agar Ramadhan tidak hanya memperhalus batin, tetapi juga meneguhkan kemandirian dan kepedulian. Karena pada akhirnya, dari yang dekat itulah kehidupan bertumbuh dan keberkahan dirawat.

*Farida Novita Rahmah, Nahdliyin Gresik, Peminat kajian/literasi peradaban Nusantara

Leave a comment