Oleh: Lukmanul Hakim*
KOLOM KALEM | NUGres – Nusantara adalah sebuah wilayah yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia. Tentunya memiliki sejarah dan kebudayaan yang datang silih berganti, yang membentuk suatu kebudayaan tertentu. Yang mana bisa kita pahami melalui definisi bahwasannya; Suatu kebudayaan adalah cara berpikir dan cara merasa yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan dari segolongan manusia yang membentuk kesatuan sosial dalam suatu ruang dan suatu waktu (Drs. Sidi Gazalba; Bentuk Kebudayaan, 46). Adapun Kebudayaan Islam adalah cara berpikir dan merasa Islam yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan dari golongan manusia yang membentuk kesatuan sosial dalam ruang dan waktu.
Gelombang-gelombang kebudayaan Hindu, Budha, kemudian masuk kebudayaan Islam, dan akhirnya kebudayaan Barat, memberi corak yang khas kepada kebudayaan yang menerima dan mengadaptasinya sesuai dengan kreativitas “Local Genius”. Intensitas penetrasi yang berbeda-beda menambah lagi variasi dan kebudayaan suku bangsa. Hal ini nampak juga terlihat pada hubungan kebudayaan antara Giri yang berada di pesisir utara Jawa dan Lombok di sebelah timur pulau Bali. Adapun kemampuan untuk menyerap atau menolak kedua budaya bergantung pada kekuatan-kekuatan dinamis dalam kebudayaan yang saling mempengaruhi (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kapita Selekta: Manifestasi Kebudayaan Indonesia, 1986:2).
Negara-negara pesisir itu adalah mula-mula Kota Pelabuhan, yang dengan berkembangnya perdagangan rempah-rempah di laut-laut Nusantara menyebabkan timbulnya suatu lapisan pedagang yang makmur dan suatu aristrokrasi pelabuhan yang kuat. Dalam jaringan lalu lintas antar kerajaan di Nusantara (negara kepulauan), pelabuhan berfungsi sebagai penghubung antara jalan maritim dan jalan darat. Pada zaman dulu, ketika komunikasi ke pedalaman lebih banyak menggunakan sungai, lokasi pelabuhan lebih menguntungkan bila di muara sungai. Adapun pada pertengahan abad ke-14 Majapahit dapat berhasil menduduki dan menguasai tempat-tempat pantai yang strategis di seluruh Nusantara, dan malahan lebih dari itu, armada perang Majapahit yang memegang kekuasaan maritim di Indonesia. Waktu kekuasaan Majapahit di awal abad 15 kekurangan posisi strategisnya.
Dengan demikian pedagang-pedagang asing dan negara-negara pantai dapat merongrong kekuasaan Majapahit di pedalaman. Kerajaan yang bermunculan di antaranya Malaka di Semenanjung Melayu, Negara Aceh di Pucuk Utara Sumatra, Banten di Jawa Barat, Kerajaan Demak di Pantai Utara Jawa Tengah, Giri Kedaton di utara Jawa Timur, dan Goa di Sulawesi Selatan. Proses perkembangan kerajaan rupanya menjadi kaya dan melahirkan golongan bangsawan kota pelabuhan rupa-rupanya terpengaruh oleh Agama Islam. Kerajaan-kerajaan di Nusantara ketika itu banyak mengandung unsur-unsur mistik. Agama Islam ketika itu disebarkan oleh penyiar-penyiar yang kemudian dalam folklore orang jawa disebut Wali. Dan di dalam kepercayaan masyarakat dianggap sebagai orang-orang keramat (Prof. Dr. Koentjaraningrat; Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, 25).
Pada masa Majapahit di kota Pelabuhan disebut Bandar. Yang dikepalai oleh syahbandar. Tugas utamanya adalah mengawasi dan mengurus perdagangan di daerah kekuasaanya, termasuk pengawasan di pasar, gudang, timbangan, ukuran dagang hingga mata uang yang dipertukarkan. Apabila ada perselisihan antara nakhoda dan pedagang, maka syahbandar bertindak sebagai penengah. Pada masa Majapahit telah datang di pelabuhan Gresik, Fatimah Binti Maimun dan ulama pedagang Islam berdagang bernama Maulana Ibrahim Asmara. Kemudian mendarat di Gresik, Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Maghfur, tujuan utamanya berdagang dan menyiarkan Islam. Mereka berusaha mengislamkan Raja Majapahit, namun gagal. Akan tetapi Maulana Malik Ibrahim kemudian diangkat menjadi Syahbandar Gresik, mendapat tanah perdikan di wilayah Gapura Gresik.
Berikutnya menurut Babad Gresik, datang dari Negeri Cempa; Raden Ali Hutama, Abu Burereh, serta Raden Rahmad yang kemudian dikenal dengan Sunan Ampel. Raden Ali Hutama diberi kedudukan di Gresik sebagai Syahbandar menggantikan Maulana Malik Ibrahim dengan gelar Raja Pandita. Sedang Raden Rahmad berkedudukan di Ampeldenta Surabaya. Beliau mendirikan pusat pendidikan Islam (pesantren), kemudian dikenal masyarakat dengan Sunan Ampel (Pemerintah Kabupaten Gresik, 1991:61). Sunan Ampel menjadi pemimpin Wali Songo pada eranya.
Dalam kunjungannya ke Gresik, Tom Pires juga mengabarkan bahwa pada saat itu Gresik adalah pelabuhan kaya yang dikendalikan oleh Pateh Cucup (Yusuf) selaku penguasa duniawi yang berdampingan dengan penguasa agama. Beliau sangat berhasil dalam dunia perdagangan, banyak kapal yang dimiliki, ada yang diukir dengan hiasan naga, dipakai untuk pesiar, suatu hiburan yang khas elit ketika itu. Jumlah kesatria di Gresik saat itu diperkirakan enam sampai tujuh ribu orang. Perdagangan yang paling ramai adalah kain tenun yang didatangkan dari berbagai penjuru (F.A Sujipto Tjiptoatmodjo, 1983:69).
Syahbandar setelah Raja Pandita, Sunan Gisik digantikan oleh Nyai Ageng Pinatih. Beliau adalah bekas istri seorang patih di Kamboja, datang dan mengabdi di Majapahit, pada tahun 1334 Saka (1412 M) menjadi saudagar ditempatkan di Gresik Wetan. Ia menjadi saudagar kaya raya dan mempunyai armada kapal yang sering berdagang di seberang lautan (Babad hing Gresik: 10). Beliau adalah ibu angkat Sunan Giri I Raden Paku. Nyai Ageng Pinatih diangkat menjadi syahbandar sampai tahun 1477 M.
Pendirian kerajaan Giri Kedhaton oleh Sunan Giri I, putera Syeikh Maulana Ishaq dan Dewi Sekardadu putri Raja Blambangan. Karena berhasil menyembuhkan putri Raja dari penyakitnya. Gelar Sunan Giri I adalah Prabu Satmata atau Sultan Ainul Yaqin. Giri Kedathon berdiri 1487 M, mendahului berdirinya kerajaan Demak. Pada waktu itu Sunan Giri I dinobatkan oleh para wali sebagai penguasa Islam yang terbebas dari Majapahit. Kekuasaanya terus berkembang tidak hanya di bidang agama, budaya tapi juga politik dan ekonomi. Melalui berbagai bidang inilah perkembangan dakwah Islam semakin pesat. Dakwah kultural dilakukan melalui seni budaya, ekonomi melalui perdagangan dan politik ulama-umara yang karismatik (Mustakim; 2022;7).
Giri Kedhaton dibangun tundha pitu (bertingkat tujuh) di atas sebuah bukit, menurut Babad hing Gresik ditandai candra sengkala sumedya resik her wulu 1408 Saka/1487 M. Sunan Giri I kemudian bergelar Prabu Satmata dengan candra sengkala trussing luhur dadi haji (1409 Saka/1488 M). Beliau meninggal tahun 1428 Saka/1506 M, dimakamkan di Giri Gajah. Kemudian diganti Sunan Giri II, Sunan Dalem sampai tahun 1467 S / 1545 M. Lalu Sunan Giri III Sunan Sedamargi (1545-1548 M) dan masa kejayaanya pada masa Sunan Giri IV, Sunan Prapen (1548-1608 M). Setelah masa Kasunanan, kemudian masa Panembahan, ini menandai terpisahnya konsep Ulama-Umara yang karismatik menjadi keulamaan saja tanpa status kuasa pemerintahan. Panembahan itu antara lain: Panembahan Kawis Guwa (1605-1616 M), Panembahan Agung (1616-1636 M), Panembahan Mas witono (1636-1660 M).
Yang berikutnya menurut J.A.B Wisselius dalam Historisch Onderzoek, Naar de geestellijk en weredlijke suprematie van grisse op midden en oost Java. Kelanjutan dari Giri Kedathon bergelar pangeran, ini menandai kuasa bukan keulamaan tapi kekuasaan keduniawianya. Di antara pangeran, sebagai berikut: Pangeran Puspa Ita (1660-1680 M), Pangeran Wirayadi (-1703 M), Pangeran Singanegara (-1725 M) dan Pangeran Singosari (1743 M) (Eko Jarwanto: Gresik Punya Sejarah, 2019; 64).
Relasi Giri Kedhaton dengan Daerah Nusantara Daerah Timur tidak lepas dari jalur perdagangan yang terbentang antara Malaka, Jawa, dan Ternate. Raja Ternate pemeluk Islam adalah Sultan Zainal Abidin (1487-1500 M), santri dari Prabu Satmata dikenal dengan Raja Bulawa (Cengkeh), beliau membawa mubaligh Tuhubahalul, hubungan Ternate, Hitu (Perdana Jamuli) dan Giri (Gresik) Jawa Timur sangatlah erat (Marwati Djoned P, Dkk, Sejarah Indonesia III, 1993;22). Hubungan Giri dan Maluku sampai abad 18 M. hal ini nampak dari peci yang diterima orang-orang Hitu Maluku. Juga Giri dengan Makasar, salah satu santri Giri yang berasal dari Minangkabau, Datuk Ri Bandang, yang menurut cerita masih kerabat dengan Giri. Dan juga Giri sampai Kalimantan, diberitakan bahwa adanya perkawinan antara pangeran-pangeran Giri dengan putri-putri setempat. Raja dari Sukadana yang memerintah mulai 1590 M memakai nama Girikusuma, diduga ada pengaruh Giri di sana (H. J de Graff, 2002: 171-172).
Selanjutnya dari kisah-kisah di Lombok, Giri mempunyai kedudukan penting, Pangeran Prapen, anak susuhunan Ratu di Giri, disebut dengan jelas. Dengan armadanya beliau singgah lebih dulu di pulau Sungian dan Sulat. Beliau membujuk Raja kafir di teluk Lombok untuk mengakui kekuasaan Islam. Kemudian memasuki tanah Sasak di Barat Daya, dan berlayar ke Sumbawa dan Bima. Apa jejak islamisasi di Lombok serta relasi budaya antara Giri dan Lombok? ini yang akan menjadi pembahasan selanjutnya.
Sunan Prapen adalah putra Sunan Giri yang ditugaskan untuk mengislamkan Lombok, Bali, dan Sumbawa. Pada masa kedatangan Sunan Prapen ini, Lombok sedang diperintah oleh Prabu Rangke Sari. Sunan Prapen datang bersama-sama dengan pengiringnya antara lain: Patih Mataram, Arya Kertasura, Jaya Lengakara, Adipati Semarang, Tumenggung Surabaya, Tumenggung Sedayu, Tumenggung Anom Sandi, Ratu Madura dan Ratu Sumenep. Menurut T. E. Behrend dalam pernyataannya bahwa:
“kurun waktu kontak langsung antara Jawa dan Lombok yang banyak membawa pertukaran budaya tersebar sepanjang abad ke-16 dan ke-17. Menurut yang terdapat pada babad dan tradisi lisan Lombok, mata rantai langsung adalah kota pelabuhan Giri. Sunan Giri IV yang disebut Prapen (1548-1605) menurut kepercayaan aclalah pembawa agama Islam kepada orang Sasak. Meskipun kita tidak perlu percaya bahwa Sunan Prapen sendiri yang menjadi pendakwah. Daerah pesisir memberi pengaruh kuat terhadap berbagai segi masyarakat Sasak, dan telah meninggalkan bekasnya pada setiap unsur mulai dari bahasa sampai pada ukiran nisan. Puncak hubungan Jawa-Lombok terjadi dari pertengahan abad ke 16 sampai kira-kira tahun 1700. Setelah itu muncullah kerajaan Bali, dibarengi dengan mundurnya minat Jawa terhadap daerah-daerah luar Jawa yang mengakibatkan lenyapnya pengaruh Jawa di Lombok” Warna Islam yang dibawa dari Jawa ini adalah berciri sufisme sinkretik.
Pada Babad Lombok dalam Bahasa Tengah (Jejawan) yang dialih aksarakan dalam Bahasa Indonesia oleh Lalu Gede Suparman (1994), dikisahkan:
“Sebuah Kerajaan diperintah oleh seorang Sultan yang bernama Susuhunan Ratu Giri. Sultan dan Rakyatnya telah memeluk Islam dan menyebarkannya ke berbagai Daerah. Sultan mempunyai seorang putra bernama Pangeran Prapen. Suatu hari Sultan memanggil putranya untuk menghadap. Sunan Prapen bersegera datang ke hadapan ayahandanya. Kemudian Sultan Giri berkata: Anakku, aku akan mengutusmu ke negeri Lombok dan Sumbawa, untuk mengislamkan Raja dan Rakyatnya. Ajaran Islam dengan penuh kasih. Bila tidak mau ikut ajakan, terangkanlah dengan ucapan tegas dan wibawa. Andaikan dengan cara itu tidak bias maka, ajaklahmereka mengadu ilmu kesaktian. Jika hal ini ditempuh dan mereka tidak mau masuk Islam. Maka perangilah mereka. Setelah mereka Islam, janganlah menjarah harta dan memperlakukan mereka semena-mena. Ajarkan dan ajak mereka berdamai dengan penuh kasih. Itulah yang dikehendaki Allah”.
Susuhunan Giri begitu arif dan bijaksana dalam berdakwah menyebarkan Islam, dengan metode bertahap (gradual); diplomatis, negosiatif, jika tidak berhasil barulah menggunakan kekuatan, akan tetapi jika sudah mendapatkan kemenangan tidak melakukan tindakan semena-mena, menjarah dan bertingkah angkuh, serta tidak menjadikan taklukannya sebagai pihak yang terjarah dan terjajah. Kebijaksanaan seperti ini seharus menjadi suri tauladan bagi pemimpin hari ini dan mendatang. Langkah pertama adalah mengirim utusan (delegasi), ketika datang utusan dari kerajaan Lombok datang disambut dengan Ramah, begitu juga Raja Lombok, Langkah kedua: Aduh Kesaktian (negoisasi), salah satunya “Harya Majalangu yang berubah wujud menjadi seekor singa yang galak dan menakutkan, singa itu mengaum, lalu membabat pangkal waru hingga jadi dua bagian. Setelah itu diam sejenak, wujud singa kembali berubah menjadi harya Majalangu. Ia pun menyembah dan duduk kembali” barulah langkah yang ketiga: Penaklukan. Dalam intruksi Sunan Prapen terlihat kemuliaan dan keagungannya dalam berperang, yang mana “Musuh yang sudah menyerah jangan disiksa, jangan merampas harta benda, jangan memperdaya wanita, jika melanggar akan mendapat azab setimpal”
Adapun dalam adat istiadat dan keseniannya disesuaikan dengan ketauhidan. Kemudian baru diajarkan kepada mereka ikrar tobat, ajaran fiqh, dan ajaran-ajaran keagamaan lainnya, yang banyak ditulis dalam bahasa daerah yang dicampur dengan bahasa Kawi, dirubah dalam bentuk syair, yang ditembangkan dan ditulis dalam huruf Jejawan (huruf Sasak). Dalam setiap awal tulisan atau uraian selalu diawali dengan pujian kepada Tuhan Yang Maha Esa. Beberapa contoh dari pengajaran beliau tentang Islam di Lombok yang masih menggunakan bahasa Jawa, antara lain:
“Bismillah hamba miwiti, henebut namaning Allah, kang murah hing dunio reko, hingkang asih hing akhirat, kang pinuji tan pegat, tan ana ratu liang agung, satuhune amung Allah”
(Bismillah hamba awali dengan menyebut nama Allah yang maha pemurah di dunia dan penyayang di akhirat, yang dipuji tak terputus, tidak ada raja lain yang lebih mulia kecuali Allah).
Adapun dua kalimah syahadat yang mereka ajarkan berbunyi:
“Weruh ingsun nora ana pangeran lyaning Allah, lan weruh ingsung Nabi Muhammad utusan Allah” (Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, clan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah), atau
Asyhadu ingsun weruh anyaksini angestoken norana Pangeran saberene hanging Allah pangeran kang seberene satuhune Nabi Muhammad utusan Allah”.
(Asyhadu saya bersaksi dengan seyakin-yakinnya bahwasanya tidak ada Tuhan yang sebenarnya, Cuma hanya Allah Tuhan yang sebenarnya, dan sesungguhnya Nabi Muhammad utusan Allah).
Adapun kalimat tobat mereka adalah sebagai berikut:
“Ingsun aneda pengampuning Allah, hing dosa ingkang agung ingkang alit, ingkang nyata ingkang samar.” (Hamba memohon pengampunan Allah terhadap dosa hamba, baik besar maupun kecil, yang nyata atau yang samar).
Teori ini lebih banyak dibuktikan dengan fakta adanya kesamaan bahasa dan budaya Lombok dengan Jawa. Misalnya, dua kalimat syahadat yang diartikan dalam bahasa Jawa, sering digunakan di dalam upacara pernikahan komunitas Sasak Desa Bayan adanya tulisan sastra yang memakai daun lontar, berhuruf dan berbahasa Jawa yang berisi ajaran-ajaran Islam, adanya seperangkat gamelan sebagai instrumen pengiring kesenian tradisional Sasak (presean) yang sering dipergunakan pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW mirip acara Sekatenan Yogyakarta, dan juga adanya sebutan perabot-perabot agama yang diambil dari bahasa Jawa, seperti Ketib (orang yang membaca kutbah pada shalat Jum’at, dan shalat Id)” Mudin (Muadzin) dan Lebe (orang yang bertugas untuk menikahkan dan membaca do’a). Argumentasi yang menguatkan pernyataan tersebut adalah adanya corak baru dalam pertumbuhan seni sastra Lombok yang bercorakkan Islam dan telah diubah dalam bahasa Jawa Madya yang selanjutnya ditembangkan dalam bentuk tembang macapat (Dr. M. Harfin Zuhdi, Mozaik Islam, 2017).
Pola berikutnya adalah singkretisme; yang mana budaya dan agama mengalami proses dialektika. Hal ini Nampak dalam sistem religi Wetu Telu yang berada di Lombok. Dan Toponomi, nama-nama yang memiliki kemiripan antara Lombok dengan Giri, seperti Giri Menang dan sebagainya. Dalam pola perdagangan: Jawa-Bali, Lombok Sumbawa: bahan-bahan pangan, tekstil kasar, budak dan kuda: hasil hasil ini ditukarkan dengan tekstil Jawa. Sedangkan Bali, Lombok, sumbawa-Timor, Sumba: kayu cendana dari daerah timur dan Sumba ditukarkan dengan tekstil kasar India dan Jawa. Ini hasil-hasil lokal yang menjadi transaksi perdagangan di kala itu.(M.C. Riclefs: Sejarah Indonesia 1200-2004, 2021; 59).
Relasi antara Lombok dan Giri tertutup semenjak ada kebijakan dari sistem maritim menuju kekuasaan dan kebijakan agraris, ditambah lagi berakhirnya dinasti Giri Kedathon, yang semenjak Sunan Prapen wafat mengalami kemunduran dari kekuasaan ulama-umara yang karismatik, menjadi keulamaanya saja tapi tanpa kuasa kepemimpinan keduniaan, yang dijuluki Panembahan. Dan sebaliknya di periode pangeran-pangeran, lebih cenderung keduniawiannya daripada keulamaanya.
Dukun-Gresik 2025
*Lukmanul Hakim, Budayawan Gresik, Ketua Lesbumi PCNU Gresik.

